Dinas Pertanian Kabupaten Indramayu pada 21 September 2026 merilis data bahwa sekitar 30 persen sawah di Kecamatan Gantar dan Haurgeulis terancam puso akibat kekeringan ekstrem yang dipicu fenomena El Niño berkepanjangan. Kondisi ini menjadi sinyal awal kerawanan pangan di tingkat lokal yang memerlukan respons cepat dari pemerintah provinsi dan kabupaten. Pemerintah daerah di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara pun mulai merevitalisasi sistem irigasi desa sebagai langkah adaptif menghadapi ancaman kekeringan yang semakin intensif.
Revitalisasi Sistem Irigasi Desa sebagai Respons Krisis Air
Pemerintah provinsi melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) mengusulkan program pembangunan embung dan sumur resapan di 15 desa prioritas di Kabupaten Indramayu. Program ini dirancang untuk mengoptimalkan ketersediaan air irigasi di tengah ancaman kekeringan. Anggota DPRD Jawa Barat menegaskan perlunya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dalam mengalokasikan anggaran ketahanan pangan. Berikut data wilayah terdampak dan langkah yang diusulkan:
- Kecamatan Gantar: 1.200 hektare sawah terancam puso (35 persen dari total sawah).
- Kecamatan Haurgeulis: 1.800 hektare sawah mengalami kekurangan air irigasi (28 persen dari total sawah).
- 15 desa prioritas penerima program embung dan sumur resapan, termasuk Desa Cikedung, Desa Jatimulya, dan Desa Sukamulya.
Perspektif pembangunan wilayah menunjukkan bahwa krisis air irigasi tidak hanya mengancam produksi padi nasional tetapi juga stabilitas pasokan pangan di tingkat lokal. Oleh karena itu, revitalisasi sistem irigasi desa menjadi prioritas dalam kebijakan daerah untuk menjaga ketahanan pangan.
Diversifikasi Varietas Padi Tahan Kering di Lombok Tengah
Di sisi lain, petani di Lombok Tengah mulai beralih ke varietas padi tahan kering sebagai adaptasi terhadap ancaman kekeringan ekstrem. Langkah ini merupakan bagian dari upaya diversifikasi komoditas dan penguatan ketahanan pangan daerah. Pemerintah daerah di Lombok Tengah mendukung inisiatif ini melalui penyuluhan pertanian dan subsidi benih varietas unggul tahan kering. Diversifikasi ini menjadi strategi penting dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu.
Catatan strategis: Investasi infrastruktur air seperti embung, sumur resapan, dan perbaikan saluran irigasi harus menjadi prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) di daerah rawan iklim. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini kekeringan dan memperluas akses petani terhadap varietas tanaman tahan kering. Sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota mutlak diperlukan untuk menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim yang semakin ekstrem.