Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) resmi menetapkan September 2026 sebagai fase kritis penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Indonesia. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menyampaikan peringatan tersebut dalam keterangan resmi yang dirilis pada awal September 2026. Kondisi cuaca kering yang masih dominan di sebagian besar wilayah, pengaruh fenomena El Nino yang belum sepenuhnya mereda, serta peningkatan jumlah titik panas (hotspot) menjadi faktor utama yang meningkatkan kerawanan karhutla. BMKG memprakirakan potensi pertumbuhan awan hujan pada periode 6 hingga 13 September 2026 masih relatif rendah di sejumlah wilayah strategis, meliputi Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, sebagian Sulawesi, dan Papua bagian selatan.
Analisis BMKG: El Nino dan Titik Panas Jadi Indikator Kritis
Berdasarkan data pemantauan terkini, BMKG mengidentifikasi bahwa pengaruh El Nino masih memberikan dampak signifikan terhadap berkurangnya curah hujan di wilayah-wilayah rawan. Fenomena ini memperpanjang musim kemarau dan meningkatkan risiko kekeringan lahan, terutama di area gambut dan hutan produksi. Selain itu, jumlah titik panas yang terdeteksi di berbagai lokasi menunjukkan peningkatan yang perlu diwaspadai. Wilayah dengan kerawanan tinggi akibat kombinasi El Nino dan titik panas meliputi:
- Sumatera Selatan
- Riau
- Jambi
- Kalimantan Barat
- Kalimantan Tengah
- Kalimantan Selatan
BMKG mencatat bahwa pada periode September, aktivitas pembakaran lahan untuk pertanian dan perkebunan kerap meningkat, sehingga diperlukan pengawasan ketat terhadap aktivitas masyarakat di sekitar area hutan dan lahan gambut. Kondisi cuaca kering yang berkepanjangan juga berpotensi memperluas sebaran kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan dan aktivitas penerbangan di wilayah terdampak. Oleh karena itu, peringatan dini dan pemantauan titik panas secara real-time menjadi instrumen penting dalam upaya pencegahan karhutla.
Pemetaan Wilayah Rawan Karhutla di Indonesia
BMKG melakukan pemetaan secara spesifik terhadap daerah-daerah yang diprakirakan mengalami fase kritis tertinggi. Pemetaan ini didasarkan pada analisis kondisi meteorologi, tipe lahan, dan histori kebakaran tahun sebelumnya. Wilayah-wilayah tersebut menjadi prioritas dalam pengerahan sumber daya pencegahan dan penanggulangan karhutla. Pemetaan ini juga digunakan untuk menentukan prioritas lokasi patroli darat dan udara oleh instansi terkait.
- Sumatera Bagian Selatan: Provinsi Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau menjadi perhatian utama karena memiliki lahan gambut luas serta aktivitas pembukaan lahan yang tinggi.
- Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan masuk dalam kategori waspada karena tingkat kekeringan lahan yang ekstrem dan banyaknya titik panas yang terpantau.
- Wilayah Lain: Jawa Timur bagian timur, Nusa Tenggara Timur, dan Papua Selatan juga perlu meningkatkan kewaspadaan mengingat rendahnya potensi hujan dalam sepekan ke depan.
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, BMKG merekomendasikan penguatan koordinasi lintas sektor, optimalisasi patroli darat dan udara, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan di wilayah rawan. Pemerintah daerah di Provinsi Sumatera Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan diminta segera mengaktifkan posko siaga darurat karhutla serta mengintensifkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai larangan membakar lahan. Pemantauan titik panas secara real-time dan kesiapan infrastruktur pemadaman menjadi kunci dalam menekan risiko kebakaran hutan dan lahan selama fase kritis September 2026.