|  Indonesia, WIB
Beranda Nasional Karhutla Kalimantan Melonjak, Hotspot Kalsel 15 Titik, Kalbar 39,...
Nasional

Karhutla Kalimantan Melonjak, Hotspot Kalsel 15 Titik, Kalbar 39, dan Kalteng 166

Karhutla Kalimantan Melonjak, Hotspot Kalsel 15 Titik, Kalbar 39, dan Kalteng 166

Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan, terjadi lonjakan signifikan hotspot di Kalimantan Tengah (166 titik), Kalimantan Barat (39 titik), dan Kalimantan Selatan (12 titik). Peningkatan ini menandakan kebakaran hutan dan lahan yang memerlukan respons cepat dari pemerintah daerah dan pusat. BNPB merekomendasikan penguatan koordinasi, patroli terpadu, dan penegakan hukum untuk menekan risiko bencana asap lintas batas.

Jakarta, Swara Teritori — Data pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan pada Jumat (18/9/2026) pukul 21.05 WIB menunjukkan lonjakan signifikan titik panas (hotspot) berkepercayaan tinggi di Pulau Kalimantan, menandakan peningkatan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat Kalimantan Tengah (Kalteng) sebagai provinsi dengan hotspot terbanyak, naik drastis dari 61 menjadi 166 titik, disusul Kalimantan Barat (Kalbar) dengan 39 titik dan Kalimantan Selatan (Kalsel) sebanyak 12 titik. Peningkatan ini memicu peringatan dini bagi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran di lapangan, mengingat potensi kabut asap lintas batas yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat dan transportasi.

Analisis Sebaran Hotspot di Kalimantan: Kalteng Menjadi Episentrum

Berdasarkan data yang dihimpun dari sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan, tren peningkatan hotspot terjadi secara merata di tiga provinsi utama di Kalimantan. Berikut rincian jumlah titik panas yang terpantau pada periode tersebut:

  • Kalimantan Tengah: 166 titik (sebelumnya 61 titik, naik 105 titik atau 172%)
  • Kalimantan Barat: 39 titik (sebelumnya 30 titik, naik 9 titik)
  • Kalimantan Selatan: 12 titik (sebelumnya 5 titik, naik 7 titik)

Lonjakan ini tidak hanya terjadi di Kalimantan, tetapi juga menjadi atensi nasional karena berpotensi menimbulkan kabut asap lintas batas yang mengancam sektor kesehatan, pendidikan, dan perekonomian. Operasi pengendalian karhutla pun melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, dan pemerintah daerah. Sebanyak 55 unit armada udara dikerahkan untuk melakukan patroli dan pemadaman dari udara guna menekan meluasnya titik api di wilayah-wilayah rawan. Pemerintah daerah di Kalteng, Kalbar, dan Kalsel diminta segera memetakan ulang zona rawan kebakaran dan mengaktifkan posko lapangan sebagai langkah antisipatif.

Strategi Pemerintah Daerah dan Pusat dalam Mengendalikan Karhutla

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, mendampingi Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Djamari Chaniago dalam Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan. Rapat ini membahas kesiapsiagaan seluruh pihak dalam menghadapi potensi kebakaran yang meningkat, termasuk di Pulau Kalimantan. Data hotspot dari SiPongi menjadi acuan utama dalam memetakan titik rawan dan mengerahkan sumber daya secara tepat sasaran. Kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam mempercepat respons di lapangan. Selain itu, Kementerian Kehutanan bersama BNPB telah menginstruksikan pembasahan lahan gambut secara intensif, patroli terpadu, dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran lahan.

Sebagai catatan, data ini menjadi indikator kunci untuk pemetaan kerawanan bencana asap dan kebakaran, di mana Kalteng menjadi episentrum yang memerlukan perhatian dan alokasi sumber daya ekstra dari pusat. Peningkatan hotspot yang signifikan di daerah ini menuntut langkah nyata, seperti pembasahan lahan gambut, patroli terpadu, dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya fokus pada pemadaman, tetapi juga pada upaya pencegahan jangka panjang dengan melibatkan masyarakat setempat dalam pengelolaan lahan tanpa bakar. Koordinasi antara BPBD, TNI, Polri, dan Manggala Agni harus diperkuat untuk memastikan respons cepat terhadap setiap kemunculan titik api baru.

Secara strategis, rekomendasi untuk pemerintah daerah di Kalimantan adalah meningkatkan koordinasi lintas sektor, mengoptimalkan sosialisasi bahaya karhutla kepada masyarakat, dan mempercepat restorasi gambut di wilayah rawan. Pemerintah pusat melalui BNPB dan Kementerian Kehutanan siap memberikan dukungan penuh, termasuk bantuan armada udara dan teknologi pemantauan. Dengan sinergi yang kuat antara pusat dan daerah, diharapkan lonjakan hotspot ini dapat segera dikendalikan dan risiko kebakaran hutan serta lahan dapat diminimalkan secara berkelanjutan.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Raja Juli Antoni, Djamari Chaniago
Organisasi: Kementerian Kehutanan, SiPongi, Manggala Agni, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, Pemerintah Daerah
Lokasi: Pulau Kalimantan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Palembang
Berita Terkait