Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Deputi Bidang Modifikasi Cuaca, Tri Handoko Seto, mengumumkan intensifikasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) pada Selasa, 8 September 2026. Operasi ini dilakukan secara simultan untuk menangani dua bencana multidimensi: kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan dan Sumatera, serta sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau yang mengancam kualitas udara dan mobilitas masyarakat. BMKG menyiagakan dua pesawat, yakni CASA 212 dan CN295, yang masing-masing berbasis di Semarang dan Bandara Kertajati, Majalengka, sebagai pusat operasi teknologi modifikasi cuaca.
Prioritas Penanganan Karhutla di Wilayah Rawan Kalimantan dan Sumatera
Dalam konteks penanggulangan karhutla, OMC atau Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) diarahkan untuk memicu hujan di atas titik-titik api dan lahan gambut kering yang menjadi sumber utama kebakaran. Berdasarkan data BMKG, wilayah-wilayah yang menjadi prioritas penyemaian awan meliputi provinsi dengan indeks kerawanan tinggi, antara lain:
- Kalimantan Barat, dengan konsentrasi lahan gambut di Kabupaten Kubu Raya, Pontianak, dan Ketapang.
- Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Pulang Pisau, Kapuas, dan Palangka Raya.
- Sumatera Selatan, mencakup Kabupaten Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin.
- Riau, dengan titik api di Kabupaten Bengkalis, Pelalawan, dan Indragiri Hilir.
Penyemaian garam NaCl sebagai inti kondensasi awan dilakukan berdasarkan analisis pola angin dan potensi pertumbuhan awan dari BMKG. Proses ini membutuhkan kondisi atmosfer yang mendukung, sehingga pemantauan cuaca dilakukan secara real-time oleh tim di lapangan. Keberhasilan OMC sangat bergantung pada ketersediaan awan potensial serta stabilitas meteorologis di wilayah sasaran.
Mitigasi Sebaran Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau melalui Hujan Buatan
Selain karhutla, OMC juga difokuskan untuk mereduksi sebaran abu vulkanik yang dikeluarkan oleh Gunung Anak Krakatau. Hujan buatan diharapkan dapat mengikat partikel abu di atmosfer, membersihkan udara, dan mendinginkan kolom erupsi. Teknologi modifikasi cuaca ini menjadi solusi cepat untuk mengurangi dampak abu terhadap kesehatan masyarakat, infrastruktur, dan sektor penerbangan di sekitar Selat Sunda. BMKG menegaskan bahwa penyemaian awan dilakukan di area yang telah teridentifikasi memiliki konsentrasi abu tinggi berdasarkan data satelit dan hasil pemantauan balai vulkanologi.
Tri Handoko Seto menjelaskan bahwa upaya ini merupakan bagian dari mitigasi dampak bencana multidimensi yang bertujuan mendukung stabilitas wilayah dan kesehatan masyarakat. “Kami berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), pemerintah daerah, dan TNI AU untuk memastikan operasi berjalan efektif. Tiap tahap penyemaian dievaluasi secara ketat agar hasil hujan buatan dapat optimal,” ujarnya. Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, keberlanjutan OMC memerlukan dukungan infrastruktur bandara, ketersediaan logistik bahan semai, serta pemantauan cuaca berkelanjutan. Pemerintah daerah di wilayah prioritas disarankan memperkuat koordinasi dengan BMKG dan BNPB dalam penyediaan data titik api serta akses lokasi strategis untuk operasi penyemaian awan, guna memaksimalkan efektivitas teknologi modifikasi cuaca dalam menekan risiko karhutla dan sebaran abu vulkanik.