Pemerintah melalui Kementerian Kehutanan menjadwalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan pada 15 dan 16 Oktober 2026 sebagai langkah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Kalimantan Tengah. Pelaksanaan modifikasi cuaca ini akan menggunakan pesawat yang diterbangkan dari Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyusul terkendalanya penerbangan dari Bandara Tjilik Riwut dan Bandara Iskandar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, akibat jarak pandang yang sangat terbatas.
Strategi Operasi Udara dan Relokasi Aset Water Bombing
Operasi modifikasi cuaca merupakan bagian dari strategi penanganan karhutla dari sektor udara. Selain penyemaian awan melalui hujan buatan, pemerintah juga menyiapkan pergeseran operasi helikopter water bombing. Saat ini terdapat enam helikopter water bombing di Kalimantan Tengah, namun operasinya menghadapi kendala visibilitas di bawah batas minimum 5.000 meter. Kondisi ini menghambat penerbangan untuk pengeboman air dari udara.
Untuk mengoptimalkan operasi udara, helikopter water bombing direncanakan dipindahkan ke Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, yang memiliki kondisi jarak pandang lebih baik. Alternatif lain, pemerintah akan mendatangkan helikopter dari provinsi lain, seperti Riau, yang kondisi kabut asapnya mulai membaik. Langkah ini diambil agar penanganan karhutla dari udara dapat berjalan efektif meskipun terkendala cuaca. Berikut data operasi udara yang perlu menjadi perhatian pemerintah daerah:
- Enam helikopter water bombing saat ini berada di Kalimantan Tengah dan siap dioperasikan.
- Batas minimum visibilitas operasi water bombing adalah 5.000 meter.
- Kuala Pembuang, Seruyan, menjadi lokasi alternatif relokasi helikopter water bombing.
- Provinsi Riau disiapkan sebagai sumber tambahan helikopter apabila diperlukan.
Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun rencana kontijensi serta menentukan prioritas lokasi pemadaman dari udara. Dengan demikian, pergeseran aset helikopter dapat dilakukan secara efisien dan tepat sasaran di wilayah terdampak.
Penguatan Operasi Darat dan Indikator Kerawanan Wilayah
Operasi udara tersebut akan berjalan beriringan dengan penguatan operasi darat yang melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), serta relawan Masyarakat Peduli Api (MPA). Sinergi antara operasi udara dan darat ini diperlukan untuk mempercepat pemadaman api serta mencegah meluasnya titik api. Kolaborasi lintas sektor ini sekaligus menjadi indikator bahwa tingkat kerawanan wilayah akibat karhutla di Kalimantan Tengah masih tinggi. Keterlibatan berbagai unsur tersebut memperkuat kapasitas penanganan di lapangan, terutama di kabupaten/kota yang memiliki titik api aktif.
Tingkat kerawanan wilayah akibat karhutla di Kalimantan Tengah masih tinggi. Hal ini tercermin dari masih aktifnya titik panas di sejumlah kabupaten serta terbatasnya jarak pandang yang mempengaruhi operasi penerbangan. Oleh karena itu, pemerintah daerah perlu mencermati sebaran titik api dan memastikan kesiapan personel serta peralatan pemadaman di tingkat kabupaten/kota.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah di Kalimantan Tengah perlu memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat dan provinsi tetangga dalam pelaksanaan modifikasi cuaca maupun water bombing. Selain itu, evaluasi berkala terhadap kondisi visibilitas di setiap bandara dan lokasi operasi sangat penting agar pergeseran aset udara dapat dilakukan tepat waktu. Penguatan operasi darat di wilayah rawan harus menjadi prioritas utama untuk menekan risiko meluasnya karhutla tahun ini.