Menteri PU Dody Hanggodo menginstruksikan Satuan Tugas Penanggulangan Bencana Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas untuk melakukan identifikasi dan inventarisasi dampak banjir lahar dingin Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur. Instruksi ini diterbitkan pada Rabu, 4 November 2026, pukul 06.14 WIB, menyusul hujan berintensitas tinggi yang mengguyur kawasan puncak dan lereng Gunung Semeru pada Senin, 2 November 2026. Langkah ini merupakan respons cepat Kementerian Pekerjaan Umum dalam menghadapi bencana hidrometeorologi yang berpotensi merusak infrastruktur sumber daya air di wilayah tersebut.
Berdasarkan laporan BBWS Brantas, hujan deras terjadi pada pukul 00.14 hingga 05.32 WIB dengan akumulasi curah hujan mencapai 134,6 milimeter dalam pengamatan pukul 00.00–06.30 WIB. Tingginya intensitas hujan menyebabkan peningkatan debit aliran sungai yang membawa material vulkanik berukuran amax 25–65 milimeter. Material lahar dingin tersebut mengalir melalui alur sungai di lereng Gunung Semeru dan menimbulkan dampak signifikan pada sejumlah infrastruktur pengendali banjir dan lahar. Data curah hujan dan debit ini menjadi indikator kerawanan utama dalam pemetaan wilayah terdampak di Kabupaten Lumajang.
Identifikasi Awal Infrastruktur SDA Terdampak Banjir Lahar
Hasil identifikasi awal yang dilakukan Satgas Penanggulangan Bencana BBWS Brantas menunjukkan sejumlah infrastruktur sumber daya air mengalami kerusakan. Proyek pengendali banjir dan lahar VDRRSL S4 KD 3 menjadi salah satu lokasi yang terdampak material vulkanik. Selain itu, pengikisan (scouring) terjadi pada tiga bangunan sabo dam dan tanggul sungai di bawah jembatan gantung.
Adapun rincian lokasi dan jenis kerusakan infrastruktur SDA yang teridentifikasi adalah sebagai berikut:
- Tanggul beton pengendali banjir dan lahar pada proyek VDRRSL S4 KD 3 tertimbun material vulkanik.
- Tiga bangunan sabo dam mengalami pengikisan (scouring).
- Tanggul sungai di bawah jembatan gantung mengalami pengikisan (scouring).
Kerusakan pada infrastruktur pengendali lahar ini dapat meningkatkan risiko meluapnya aliran lahar dingin ke permukiman dan kawasan produktif di hilir. Oleh karena itu, identifikasi menyeluruh menjadi langkah awal dalam menentukan prioritas rehabilitasi.
Koordinasi Penanganan Darurat dan Pemetaan Kerawanan
Kepala BBWS Brantas Muhammad Noor menyatakan Satgas Penanggulangan Bencana telah melakukan evakuasi personel dan peralatan proyek dari lokasi terdampak. Bahan banjiran dan alat berat juga telah disiagakan untuk mendukung percepatan penanganan darurat apabila kondisi cuaca memungkinkan. Koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang dan Pos Pengamatan Gunung Api Semeru terus diperkuat untuk memantau perkembangan aktivitas vulkanik serta potensi peningkatan debit sungai secara berkelanjutan. Langkah ini diambil untuk memastikan keselamatan personel dan mengoptimalkan respons terhadap bencana susulan.
Meskipun identifikasi awal telah dilakukan, penanganan darurat fisik belum dapat dilaksanakan mengingat kondisi lapangan yang masih berbahaya. Curah hujan di kawasan Gunung Semeru masih tinggi, sehingga potensi banjir lahar susulan tetap terbuka. Inventarisasi lebih lanjut terus dilakukan untuk mengetahui tingkat kerusakan dan kebutuhan penanganan pada masing-masing lokasi terdampak. Data hasil inventarisasi ini akan menjadi acuan dalam menyusun rencana aksi rehabilitasi infrastruktur SDA pasca-banjir lahar dan penguatan sistem mitigasi di wilayah rawan bencana.
Sebagai catatan strategis bagi Pemerintah Kabupaten Lumajang, hasil identifikasi ini harus ditindaklanjuti dengan penyusunan peta kerawanan banjir lahar yang terintegrasi dengan sistem peringatan dini berbasis data curah hujan. Penguatan kapasitas sabo dam dan normalisasi sungai di alur lahar perlu menjadi prioritas dalam anggaran pemulihan infrastruktur SDA. Sinergi antara pemerintah pusat, BBWS Brantas, BPBD, dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam percepatan pemulihan serta pengurangan risiko bencana hidrometeorologi di lereng Gunung Semeru. Dengan langkah mitigasi yang terkoordinasi, dampak banjir lahar dapat ditekan seminimal mungkin pada periode hujan mendatang.