Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, resmi menetapkan status tanggap darurat bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah menghanguskan hampir 300 unit rumah dan memaksa sekitar 1.000 warga mengungsi ke tempat yang lebih aman. Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavid, mengonfirmasi bahwa kebakaran yang berlangsung sejak Sabtu lalu meluas dengan cepat akibat kondisi cuaca kering yang dipicu fenomena El Nino serta karakteristik lahan gambut yang membuat api membara di bawah permukaan tanah. Kejadian ini menegaskan tingginya tingkat kerawanan wilayah Kepulauan Bangka Belitung terhadap karhutla yang berdampak langsung pada keselamatan dan keamanan permukiman warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat mencatat bahwa titik api muncul di beberapa desa secara simultan, sehingga upaya pemadaman awal oleh warga tidak membuahkan hasil optimal.
Dinamika Penyebaran Api dan Kondisi Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan sementara BPBD Kabupaten Bangka Selatan, api pertama kali muncul di area lahan gambut yang rentan terbakar pada musim kemarau. Warga setempat sempat berupaya memadamkan api secara mandiri menggunakan pompa air portabel, namun upaya tersebut tidak optimal karena titik api terus muncul di bawah permukaan. Perubahan arah angin secara signifikan mempercepat perambatan api ke permukiman yang sebagian besar berdinding kayu, sehingga dalam hitungan jam api melalap hampir 300 rumah di beberapa desa. Data sementara dari BPBD Kabupaten Bangka Selatan menunjukkan indikator kerusakan dan dampak sebagai berikut:
- Total rumah terbakar mencapai lebih kurang 300 unit dengan mayoritas konstruksi kayu;
- Jumlah pengungsi tercatat hampir 1.000 jiwa yang tersebar di tiga titik pengungsian sementara;
- Luas lahan terbakar masih dalam proses pendataan dengan estimasi awal mencapai 50 hektare;
- Faktor pemicu utama meliputi kemarau panjang, fenomena El Nino, dan karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar.
Kondisi ini menunjukkan bahwa karhutla di Kabupaten Bangka Selatan bukan sekadar kebakaran permukaan, melainkan melibatkan pembakaran gambut bawah permukaan yang sulit dideteksi dan dipadamkan. Hal ini memperbesar risiko meluasnya bencana ke area permukiman dan lahan produktif lainnya. Tim gabungan masih terus melakukan pemetaan titik panas menggunakan citra satelit untuk mengantisipasi perluasan area terdampak.
Koordinasi Penanggulangan dan Regulasi Terkait
Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari untuk mempercepat penanganan karhutla. Personel gabungan dari BPBD, TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk memadamkan api dan mengevakuasi warga ke lokasi yang lebih aman. Dinas Sosial setempat juga telah mendistribusikan bantuan logistik berupa makanan, air bersih, dan selimut ke titik-titik pengungsian. Langkah ini sejalan dengan Peraturan Daerah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan serta Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2020 tentang Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Koordinasi lintas sektor terus diperkuat, mengingat sifat api gambut yang dapat bertahan lama di bawah tanah dan berpotensi memicu ledakan titik api baru jika tidak ditangani secara tuntas.
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, kejadian karhutla di Kabupaten Bangka Selatan ini mengindikasikan perlunya peningkatan sistem peringatan dini berbasis citra satelit dan pemantauan kelembaban gambut secara real-time. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung disarankan untuk mengoptimalkan program pembasahan gambut (rewetting) dan pembangunan sekat kanal guna mengurangi risiko kebakaran di musim kemarau. Selain itu, perlu penguatan edukasi masyarakat tentang bahaya karhutla dan prosedur evakuasi yang cepat, mengingat pola permukiman yang berada di sekitar lahan gambut sangat rentan terhadap perambatan api bawah permukaan. Rekomendasi ini menjadi krusial untuk mencegah terulangnya bencana serupa yang mengancam jiwa dan harta benda warga di wilayah rawan karhutla.