Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, kembali mengalami letusan disertai awan panas pada dini hari pukul 01.15 WITA, 17 Oktober 2026. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menaikkan status gunung dari Waspada (Level II) menjadi Siaga (Level III) sejak pukul 03.00 WITA, menyusul peningkatan aktivitas vulkanik yang signifikan. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menginstruksikan evakuasi warga dalam radius 5 kilometer dari kawah utama untuk mengantisipasi dampak letusan susulan.
Dampak Letusan dan Evakuasi Warga di Wilayah Terdampak
Data yang dihimpun PVMBG menunjukkan bahwa letusan diawali tremor vulkanik menerus sejak pukul 23.00 WITA, 16 Oktober 2026, dengan puncak lontaran material piroklastik dan abu vulkanik setinggi 3.000 meter mengarah ke tenggara. Aliran awan panas menjalar hingga 4 kilometer melintasi lereng yang termasuk dalam wilayah administratif Kecamatan Adonara Timur. Sebanyak 650 jiwa dari dua desa terdampak telah dievakuasi ke tenda pengungsian yang didirikan di Kecamatan Adonara Timur. Berikut rincian dampak berdasarkan laporan sementara BPBD Flores Timur:
- Wilayah terdampak langsung: Desa Ile Boleng dan Desa Wulanggitang, Kecamatan Adonara Timur.
- Jumlah warga yang dievakuasi: 650 jiwa, mayoritas lanjut usia, ibu hamil, dan anak-anak.
- Radius bahaya: 5 kilometer dari kawah utama.
- Penutupan sementara Bandara Gewayantana Larantuka akibat sebaran abu vulkanik selama tiga jam, kini telah beroperasi normal.
- Logistik dasar seperti air bersih, makanan siap saji, dan masker telah didistribusikan oleh tim gabungan BNPB, TNI, Polri, dan relawan lokal.
Perpanjangan Status Tanggap Darurat dan Koordinasi Pemerintah Daerah
Pemerintah Kabupaten Flores Timur resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana untuk gunung Lewotobi Laki-laki selama 14 hari ke depan terhitung sejak 17 Oktober 2026 melalui Surat Keputusan Bupati. Keputusan ini didasarkan pada rekomendasi PVMBG yang menyatakan potensi letusan susulan dan awan panas masih tinggi. Kepala BPBD Flores Timur menyebutkan bahwa koordinasi dengan kecamatan dan desa terus diperkuat, termasuk penyiapan jalur evakuasi alternatif dan posko pengungsian tambahan. Pemerintah daerah bersama TNI dan Polri melakukan patroli di radius berbahaya untuk memastikan tidak ada warga yang kembali ke rumah sebelum situasi dinyatakan aman. Selain aspek evakuasi, pemantauan kualitas udara di sekitar lokasi pengungsian juga dilakukan guna mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap kesehatan masyarakat.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Kabupaten Flores Timur direkomendasikan untuk memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas di desa-desa risiko tinggi, serta mengintegrasikan rencana kontinjensi letusan gunung Lewotobi Laki-laki ke dalam dokumen penanggulangan bencana daerah. Sinergi antara PVMBG, BPBD, dan pemerintah kecamatan perlu dioptimalkan agar respons evakuasi dapat berjalan lebih cepat dan terukur. Selain itu, penyediaan pasokan logistik cadangan dan edukasi mitigasi bencana bagi warga di radius siaga menjadi prioritas guna mengurangi kerentanan terhadap letusan lanjutan yang masih berpotensi terjadi.