|  Indonesia, WIB
Beranda › Nasional › Gunung Semeru Erupsi, Warga di Lereng Diimbau Waspada
Nasional

Gunung Semeru Erupsi, Warga di Lereng Diimbau Waspada

Gunung Semeru Erupsi, Warga di Lereng Diimbau Waspada

Erupsi Gunung Semeru pada Selasa, 21 Oktober 2026, mendorong Pemerintah Kabupaten Lumajang meningkatkan kewaspadaan di wilayah lereng. Sebanyak 12 desa di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro masuk dalam peta rawan bencana dengan radius bahaya 5 kilometer dari kawah aktif. BPBD Lumajang bersama TNI-Polri telah menyiagakan personel dan posko darurat untuk mengantisipasi dampak erupsi.

Pemerintah Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, meningkatkan status kewaspadaan menyusul erupsi Gunung Semeru pada Selasa, 21 Oktober 2026, pukul 07.30 WIB. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tinggi kolom abu vulkanik mencapai 1.200 meter di atas puncak, dengan status gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut berada pada Level III (Siaga). Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang telah mengaktifkan posko darurat di titik-titik rawan bencana untuk mengantisipasi dampak erupsi di wilayah lereng.

Peta Kerawanan dan Wilayah Terdampak Erupsi di Lumajang

Berdasarkan data PVMBG, wilayah yang masuk dalam radius bahaya meliputi Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro di Kabupaten Lumajang. Pemerintah daerah menetapkan larangan aktivitas masyarakat dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif. Indikator kerawanan yang perlu diwaspadai meliputi:

  • Desa Supiturang dan Sumberwuluh di Kecamatan Pronojiwo termasuk dalam zona merah erupsi dan aliran lahar.
  • Desa Pasirian dan Penanggal di Kecamatan Candipuro rawan terhadap guguran lava dan awan panas guguran.
  • Jalur sungai yang berhulu di Gunung Semeru, seperti Kali Besuk, Kali Kobokan, dan Kali Glidik, memiliki potensi banjir lahar hujan saat intensitas hujan tinggi.
  • Total 12 desa di dua kecamatan tersebut masuk dalam peta rawan bencana erupsi Gunung Semeru.

Pemetaan ini menjadi acuan bagi pemerintah daerah dalam menentukan prioritas evakuasi dan distribusi bantuan di kawasan bencana Lumajang. Langkah mitigasi berbasis data tersebut dinilai penting mengingat karakteristik erupsi Gunung Semeru yang kerap disertai guguran lava dan awan panas guguran menuju lembah-lembah sungai di lereng tenggara. Seluruh desa yang masuk kategori rawan telah menjalani sosialisasi dan pemasangan rambu-rambu evakuasi secara bertahap.

Kesiapsiagaan Pemerintah Daerah dan Catatan Strategis

BPBD Lumajang bersama TNI-Polri telah menyiagakan personel di pos-pos pengungsian yang tersebar di area penyangga. Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa akibat erupsi kali ini. Kepala BPBD Lumajang melalui rilis resmi mengimbau warga yang beraktivitas di lereng untuk menggunakan masker guna mengantisipasi dampak abu vulkanik terhadap saluran pernapasan. Pemerintah daerah juga telah menyiapkan logistik dan tenda darurat bagi warga yang memerlukan evakuasi mandiri. Selain itu, warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai berhulu Semeru diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi lahar hujan, terutama saat hujan deras mengguyur kawasan puncak.

Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, direkomendasikan untuk melakukan pemetaan ulang jalur evakuasi di Kecamatan Pronojiwo dan Candipuro, serta mengaktifkan sistem peringatan dini berbasis masyarakat di setiap desa rawan bencana. Koordinasi dengan PVMBG perlu diperkuat untuk memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Semeru secara real-time, khususnya pada musim penghujan yang berpotensi memicu aliran lahar dingin. Langkah ini diharapkan dapat meminimalkan risiko bencana di wilayah Lumajang.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BPBD Lumajang, TNI-Polri
Lokasi: Gunung Semeru, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, Kecamatan Pronojiwo, Candipuro
Berita Terkait