Wilayah Kabupaten Buton Tengah, Provinsi Sulawesi Tenggara, diguncang gempa tektonik berkekuatan magnitudo 5,2 pada Selasa, 27 Oktober 2026, pukul 11.40 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di laut, 33 kilometer tenggara Desa Labuanbono, Kecamatan Mawasangka, dengan kedalaman 10 kilometer. Guncangan dirasakan hingga skala III MMI di Kota Raha dan II MMI di Kota Bau-Bau. Hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa, namun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Buton Tengah mencatat sejumlah kerusakan infrastruktur di beberapa lokasi.
Dampak Kerusakan dan Respons Pemerintah Daerah
Berdasarkan data sementara BPBD Buton Tengah, gempa ini menyebabkan kerusakan pada sembilan unit rumah warga serta satu fasilitas pendidikan. Kerusakan terdampak di dua desa yaitu:
- Desa Waliabuku, Kecamatan Mawasangka: lima unit rumah mengalami kerusakan ringan hingga sedang.
- Desa Gumani, Kecamatan Mawasangka: empat unit rumah dilaporkan retak-retak pada dinding.
- SD Negeri 1 Mawasangka: mengalami retak-retak pada struktur dinding bangunan.
Menanggapi kejadian tersebut, Pj Bupati Buton Tengah, La Ode Ali Basa, mengeluarkan imbauan resmi agar warga tidak berteduh di bangunan yang sudah mengalami retak dan segera melaporkan kerusakan lanjutan kepada perangkat desa. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD yang berkoordinasi dengan TNI-Polri telah melakukan pendataan kerusakan di enam kecamatan terdampak. Dinas Sosial setempat menyiapkan tenda darurat di halaman Kantor Camat Mawasangka dan Lapangan Desa Wabula sebagai tempat pengungsian sementara. Hingga pukul 14.00 WITA tercatat dua gempa susulan bermagnitudo 3,1 dan 2,8 yang semakin meningkatkan kewaspadaan masyarakat.
Analisis Seismisitas dan Imbauan Kewaspadaan
BMKG mengingatkan adanya potensi longsor di kawasan perbukitan, khususnya di Kecamatan Talaga Raya yang memiliki struktur tanah labil. Masyarakat pesisir diminta waspada terhadap perubahan muka laut meskipun tidak ada peringatan tsunami. Data seismisitas menunjukkan bahwa Kabupaten Buton Tengah terletak di zona sesar aktif yang memerlukan pemetaan mikrozonasi lebih lanjut untuk mitigasi bencana jangka panjang. Kejadian ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas daerah dalam menghadapi ancaman gempa tektonik.
Catatan strategis bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Buton Tengah: diperlukan percepatan pemetaan kerawanan wilayah secara detail, termasuk penyusunan peta mikrozonasi dan revisi tata ruang berbasis risiko bencana. Selain itu, edukasi masyarakat tentang evakuasi mandiri dan penguatan bangunan sekolah serta rumah tinggal perlu menjadi prioritas dalam program pembangunan daerah. Dengan koordinasi antara BPBD, Dinas PUPR, dan instansi terkait, diharapkan kesiapsiagaan terhadap gempa di Buton Tengah dapat ditingkatkan secara signifikan.