Gempa bumi berkekuatan magnitudo 6,2 mengguncang wilayah Maluku Utara pada Selasa malam, 6 Oktober 2026, pukul 21.15 WIT. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di laut sekitar 48 kilometer barat daya Kota Ternate dengan kedalaman 12 kilometer. Getaran dirasakan kuat hingga ke Kota Tidore Kepulauan dan Kabupaten Halmahera Barat, sehingga Pemerintah Daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Maluku Utara langsung mengaktifkan posko darurat dan berkoordinasi dengan instansi terkait untuk pemetaan kerawanan dan penanganan awal bencana.
Dampak dan Data Kerusakan Wilayah Akibat Gempa
Berdasarkan laporan sementara BPBD Maluku Utara, bencana gempa ini mengakibatkan lima warga mengalami luka ringan akibat tertimpa reruntuhan bangunan. Selain itu, tercatat sedikitnya 120 unit rumah mengalami kerusakan dengan kategori ringan hingga berat. Kerusakan terparah terjadi di dua desa di Kecamatan Ternate Selatan, yaitu Desa Kastela dan Desa Sasa. Berikut rincian data administratif yang dihimpun dari Unit Reaksi Cepat (URC) TNI dan Basarnas:
- Desa Kastela, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate: 45 rumah rusak berat, 2 warga luka ringan.
- Desa Sasa, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate: 38 rumah rusak sedang, 1 warga luka ringan.
- Kecamatan lainnya di Kota Tidore Kepulauan: 37 rumah rusak ringan, 2 warga luka ringan.
- Wilayah Halmahera Barat: getaran kuat dilaporkan tanpa kerusakan berarti, namun BPBD setempat masih melakukan verifikasi lanjutan.
Kerusakan infrastruktur juga dilaporkan terjadi pada beberapa fasilitas umum, termasuk satu puskesmas dan dua tempat ibadah yang mengalami retak struktural. Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) setempat telah turun untuk melakukan asesmen teknis guna memastikan keamanan bangunan sebelum digunakan kembali. Data kerusakan ini menjadi indikator kerawanan wilayah yang perlu segera dipetakan oleh pemerintah daerah untuk memitigasi risiko bencana serupa di masa mendatang.
Respons Pemerintah Daerah dan Evakuasi Warga
Pemerintah Kota Ternate melalui Wali Kota M. Tauhid Soleman mengeluarkan imbauan resmi kepada warga untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu tsunami yang beredar di media sosial. “Kami bersama BMKG telah memastikan tidak ada potensi tsunami. Masyarakat diminta mengikuti arahan petugas di lapangan,” ujar Wali Kota dalam keterangan tertulis. Unit Reaksi Cepat (URC) TNI dan Basarnas dikerahkan sejak Selasa malam untuk melakukan evakuasi warga di daerah terdampak serta mendirikan posko pengungsian di tiga titik utama: Lapangan Kastela, halaman Kantor Kecamatan Ternate Selatan, dan area GOR Sasa.
Pemerintah Provinsi Maluku Utara melalui BPBD provinsi menyiagakan logistik berupa tenda pengungsian, selimut, makanan siap saji, serta tenaga medis dari Dinas Kesehatan. Posko kesehatan lapangan telah beroperasi di setiap lokasi pengungsian untuk memberikan pelayanan gratis bagi warga yang membutuhkan. Hingga Rabu pagi, proses evakuasi dan pendataan korban masih terus berlangsung, dengan fokus pada percepatan pemulihan infrastruktur vital dan pemenuhan kebutuhan dasar warga terdampak.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Daerah Maluku Utara diharapkan segera menyusun peta kerawanan bencana gempa yang lebih rinci di wilayah pesisir dan kepulauan, serta memperkuat kapasitas BPBD dalam hal pelatihan tanggap darurat dan simulasi evakuasi. Selain itu, perlu adanya penguatan sosialisasi kepada masyarakat mengenai prosedur mitigasi bencana, serta koordinasi lintas instansi yang lebih cepat untuk memastikan respons bencana yang efektif di masa mendatang.