Pada Kamis, 30 Oktober 2026, pukul 21.00 WIT, kelompok bersenjata yang tergabung dalam Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) diduga melakukan aksi pembakaran terhadap sebuah sekolah dasar di Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan. Peristiwa ini menyebabkan bangunan sekolah hangus total, namun tidak menimbulkan korban jiwa karena kegiatan belajar mengajar telah usai. Kapolres Nduga, AKBP Andi Pratama, mengonfirmasi bahwa aparat keamanan tengah melakukan pengejaran terhadap para pelaku. Aksi pembakaran di Nduga ini menjadi indikator meningkatnya eskalasi gangguan Kamtibmas di Papua yang memerlukan perhatian serius pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Kronologi dan Dampak Gangguan Keamanan di Distrik Kenyam
Berdasarkan laporan sementara kepolisian, kelompok bersenjata tiba-tiba mendatangi lokasi sekolah dasar di Distrik Kenyam pada malam hari saat kondisi lengang. Api dengan cepat melalap bangunan yang terbuat dari material kayu, sehingga menimbulkan kerugian materiil yang signifikan. TNI dan Polri kemudian memperketat pengamanan di wilayah Nduga guna mengantisipasi potensi gangguan lanjutan. Bupati Nduga mengecam keras aksi ini dan menyebutnya sebagai bentuk teror terhadap dunia pendidikan di daerah pedalaman.
- Lokasi: Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua Pegunungan
- Waktu: Kamis, 30 Oktober 2026, pukul 21.00 WIT
- Kerusakan: Bangunan sekolah dasar hangus total
- Korban: Tidak ada korban jiwa
- Respons: TNI/Polri melakukan pengejaran dan pengamanan wilayah
Upaya Pemerintah Daerah dan Rekomendasi Pengamanan Wilayah
Pemerintah Kabupaten Nduga melalui Dinas Pendidikan setempat segera merespons dengan menyediakan tenda darurat untuk proses belajar mengajar sementara. Langkah ini diambil agar aktivitas pendidikan anak-anak di Distrik Kenyam tidak terganggu lebih lama. Namun, insiden pembakaran di Nduga ini kembali membuka celah lemahnya pengamanan aset strategis di wilayah rawan konflik, termasuk infrastruktur pendidikan. Pemetaan kerawanan wilayah menjadi langkah mendesak untuk mengidentifikasi titik-titik rawan seperti sekolah, puskesmas, dan kantor distrik yang selama ini menjadi sasaran kelompok bersenjata.
Secara strategis, Pemerintah Kabupaten Nduga dan Provinsi Papua Pegunungan perlu mempercepat program pembangunan berbasis keamanan teritorial. Kolaborasi antara TNI, Polri, dan pemerintah daerah harus diperkuat untuk menekan aktivitas kelompok kriminal yang kerap menyasar fasilitas umum. Aksi pembakaran di Nduga juga menjadi pengingat bahwa perlindungan sektor pendidikan harus menjadi prioritas utama dalam kebijakan keamanan daerah. Selain meningkatkan patroli rutin dan memperkuat pos pengamanan di titik rawan, pemerintah daerah perlu membangun sistem peringatan dini serta melibatkan masyarakat dalam pengawasan lingkungan guna mencegah terulangnya aksi serupa di Papua.