Gunung Lewotobi Laki-laki yang terletak di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, mengalami erupsi pada Selasa, 13 Oktober 2026, pukul 05.32 Wita. Berdasarkan laporan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), tinggi kolom abu terpantau mencapai 800 meter di atas puncak (1.584 meter di atas permukaan laut), dengan sebaran abu mengarah ke barat daya. Status gunung saat ini masih berada pada Level III Siaga, menandakan potensi bahaya yang memerlukan kesiapsiagaan tinggi dari pemerintah daerah dan masyarakat.
Situasi Evakuasi dan Daerah Terdampak
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Flores Timur segera melakukan tindakan evakuasi terhadap masyarakat yang bermukim di radius tiga kilometer dari puncak gunung. Sebanyak 326 jiwa berhasil dipindahkan ke lokasi aman di Kecamatan Ile Bura. Wilayah yang dikosongkan meliputi tiga desa, yaitu:
- Desa Klatanlo
- Desa Hokeng Jaya
- Desa Nawokote
PVMBG mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bahaya sekunder seperti guguran lava, lontaran material pijar, dan lahar hujan di sungai-sungai yang berhulu di puncak Gunung Lewotobi. Pemerintah daerah setempat diminta terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik secara real-time dan memastikan korban evakuasi mendapatkan kebutuhan dasar yang memadai.
Dampak Transportasi dan Respons Pemerintah Daerah
Meskipun Bandara Frans Seda di Maumere tidak mengalami dampak langsung dari erupsi, sebaran abu vulkanik yang meluas ke barat daya memengaruhi jadwal penerbangan. Maskapai penerbangan melakukan penyesuaian jadwal demi keselamatan operasional. Pemerintah Kabupaten Flores Timur telah mengaktifkan dapur umum dan pos kesehatan darurat di titik-titik evakuasi untuk melayani kebutuhan dasar para pengungsi. Koordinasi lintas sektor antara PVMBG, BPBD, TNI-Polri, dan dinas terkait terus diperkuat guna memantau perkembangan erupsi, mendistribusikan bantuan logistik, serta menyusun rencana kontingensi jika status siaga meningkat.
Sebagai catatan strategis bagi Pemerintah Kabupaten Flores Timur, erupsi ini menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas di daerah rawan bencana, percepatan penyusunan peta risiko bencana vulkanik yang terintegrasi dengan tata ruang wilayah, serta peningkatan kapasitas logistik dan personel dalam manajemen pengungsian skala menengah. Sinergi antara pemerintah daerah, PVMBG, dan aparat keamanan harus terus dipelihara guna meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian materiil pada masa tanggap darurat maupun pemulihan awal.