Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, merilis pemetaan kerawanan longsor terbaru pada Selasa, 18 Agustus 2026. Pemetaan ini mengidentifikasi sebanyak 35 titik rawan longsor yang tersebar di 10 kecamatan, dengan konsentrasi kerentanan tertinggi berada di Kecamatan Sukamakmur, Cigudeg, dan Nanggung. Kepala BPBD Kabupaten Bogor, Budi Permana, menyatakan bahwa data pemetaan merupakan hasil kerja sama dengan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) berdasarkan analisis curah hujan dasarian, kemiringan lereng, dan jenis tanah. Temuan ini menjadi acuan utama dalam menentukan prioritas mitigasi di wilayah rawan longsor se-Kabupaten Bogor.
Kategorisasi Tingkat Bahaya dan Indikator Kerawanan
Berdasarkan hasil pemetaan, BPBD Kabupaten Bogor mengklasifikasikan 12 dari 35 titik rawan longsor ke dalam kategori 'sangat tinggi'. Titik-titik tersebut dinilai memiliki potensi pergerakan tanah yang signifikan dan dapat memutus akses jalan provinsi. Wilayah dengan kategori sangat tinggi tersebar di Kecamatan Sukamakmur, Cigudeg, dan Nanggung. Indikator penilaian kerawanan yang digunakan meliputi:
- Curah hujan dasarian yang melampaui ambang batas normal;
- Kemiringan lereng di atas 40 persen;
- Jenis tanah regosol dan andosol yang rentan terhadap erosi.
PVMBG turut berperan dalam validasi data geologi di lapangan untuk memastikan pemetaan sesuai dengan kondisi aktual wilayah. Sementara itu, pemerintah daerah mencatat 23 titik lainnya berada pada kategori tinggi dan sedang, sehingga tetap memerlukan pengawasan rutin dan evaluasi berkala oleh perangkat daerah terkait.
Upaya Mitigasi dan Sistem Peringatan Dini
Dalam menghadapi musim hujan tahun 2026, BPBD Kabupaten Bogor telah melaksanakan langkah mitigasi terstruktur. Setelah pemetaan selesai, dilakukan pemasangan early warning system (EWS) di Desa Cimayang, Kecamatan Sukamakmur. Selain itu, penguatan talud dilaksanakan di Desa Bojongkoneng, Kecamatan Cigudeg, guna menahan laju pergerakan tanah. Pemerintah daerah melalui BPBD mengimbau masyarakat yang bermukim di lereng curam untuk segera mengungsi bila hujan deras berlangsung lebih dari satu jam. Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, dan relawan telah disiagakan di posko kecamatan. Langkah ini merupakan bagian dari sistem kesiapsiagaan berbasis peringatan dini yang diintegrasikan dengan data cuaca BMKG.
Data historis menunjukkan bahwa pada tahun 2025 Kabupaten Bogor mencatat 112 kejadian longsor yang mengakibatkan 7 korban jiwa. Peristiwa tersebut mendorong pemerintah daerah memperketat pemetaan dan respons tanggap darurat. Pemetaan mutakhir ini diharapkan dapat menekan jumlah korban serta kerugian material pada musim hujan mendatang. Kepala BPBD menegaskan bahwa sinergi antara pemetaan terperinci, teknologi peringatan dini, dan partisipasi masyarakat menjadi kunci utama pengurangan risiko bencana longsor di wilayah Kabupaten Bogor.
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, rekomendasi utama adalah segera mengalokasikan anggaran untuk perbaikan infrastruktur penahan longsor di desa-desa yang termasuk kategori sangat tinggi. Selain itu, pemerintah daerah perlu mengaktifkan patrol rutin dan memperkuat koordinasi lintas sektor agar respons terhadap potensi longsor dapat berjalan cepat dan tepat sasaran.