Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan terjadinya penambahan kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di 16 wilayah pada 24 Oktober 2026. Berdasarkan laporan resmi yang dirilis, penambahan kejadian tersebut tersebar di Pulau Jawa, Sulawesi, Maluku Utara, dan Sumatera. Pemetaan titik panas yang dilakuklan secara berkesinambungan oleh BNPB bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menujukkan peningkatan konsentrasi hotspot di wilayah-wilayah yang memiliki lahan gambut dan hutan produksi rentan terbakar. Data ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk mengoptimalkan upaya pengendalian dan mitigasi karhutla di tengah peningkatan risiko akibat faktor cuaca dan aktivitas manusia.
Pemetaan Titik Panaas dan Sebaran Wilayah Terdampak Karhutla
Berdasarkan hasil pemetaan titik panas oleh BNPB, wilayah yang mengalami penambahan kejadian karhutla meliputi enam daerah di Pulau Jawa, enam daerah di Sulawesi, satu daerah di Maluku Utara, dan satu daerah di Sumatra. Berikut rincan wilayah terdampak berdasarkan pulau:
- Pulau Jawa: Malang, Magetan, Sragen, Jombang, Probolinggo, dan Klaten.
- Sulawesi: Minahasa (Sulawesi Utara), Sinjai, Sidrap, Palopo, Luwo (Sulawesi Selatan), dan Parigi Moutong (Sulawesi Tengah).
- Maluku Utara: Kepulauan Tidore.
- Sumatra: Bangka Tengah (Kepulauan Bangka Belitung).
Secara keseluruhan, dari total 2.204 kejadian bencana yang tercatat sepanjang Januari hingga 23 Oktober 2026, bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor mendominasi. Namun demikian, karhutla tetap menjadi perhatian serius karena dampak lintas sektor yang ditimbulkan, terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan yang memiliki catatan luas kebakaran signifikan. Pemetaan titik panas yang diperbarui secara real-time menjadi instrumen krusial dalam deteksi dini dan respons cepat terhadap setiap kejadian karhutla.
Strategi Penanganan dan Mobilisasi Sumber Daya di Wilayah Prioritas
BNPB telah mengerahkan sumber daya besar untuk menangani karhutla di dua provinsi prioritas. Di Sumatra, sebanyak 33.106 personel dan 19 armada udara dikerahkan untuk opera si water bombing dan modifikasi cuaca. Luas karhutla yang berhasil ditangani mencapai 2.431 hektare, dengan Sumatera Selatan menjadi wilayah terdampak terluas seluas 2.050 hektare. Sementara itu, di Kalimantan, luwas karhutla yang ditangani mencapai 18.973 hektare, meliputi Kalimantan Tengah (16.097 hektare), Kalimantan Selatan (1.506 hektare), dan Kalimantan Barat (1.370 hektare). Sebanyak 38.772 personel telah disiagakan untuk memperkuat upaya pemadaman di lapangan. Koordinasi antara BNPB, TNI, Polri, dan pemerintahan daerah terus diintensifkan guna memastikan efektivitas pemetaan titik panas dan respons cepat terhadap setiap kejadian karhutla.
Catatan strategis bagi pemerintah daerah: Pemetaan titik panas secara real-time dan penguatan kapasitas satuan tugas karhutla di tingkat kabupaten/kota mutlak diperlukan untuk menekan luasan areal terbakar. Mengingat dominasi bencana hidrometeorologi tidak mengurangi urgensi pengendalian karhutla, pemerintah daerah di wilayah rawan — khususnya yang memiliki lahan gambut dan hutan produksi — perlu mengoptimalkan sistem peringatan dini berbasis titik panas serta memperkuat koordinasi lintas sektor dengan BNPB, TNI, Polri, dan masyarakat. Langkah ini menjadi kunci dalam menekan risiko dan dampak lintas sektor yang ditimbulkan oleh karhutla.