Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memperpanjang status siaga (Level III) Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, pada Selasa (20/10/2026) karena erupsi freatik yang masih terjadi dengan tinggi kolom abu mencapai 500 meter. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Ir. Ahmad Husein, melaporkan bahwa jumlah pengungsi akibat letusan besar sejak 16 Oktober 2026 terus bertambah hingga mencapai 5.000 jiwa yang tersebar di 15 titik pengungsian di Kecamatan Pronojiwo, Candipuro, dan Pasirian. Pemerintah daerah bersama instansi terkait terus memobilisasi sumber daya untuk penanganan darurat di kawasan terdampak.
Dampak Letusan dan Penanganan Darurat di Lumajang
Erupsi Gunung Semeru telah menimbulkan dampak signifikan terhadap sektor pertanian, transportasi, dan keselamatan warga. Tim SAR gabungan terus melakukan evakuasi dari zona bahaya radius 5 kilometer dari puncak. Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama TNI dan Polri mendirikan dapur umum dan layanan kesehatan di setiap lokasi pengungsian. Data Dinas Sosial mencatat sebanyak 2.000 jiwa pengungsi adalah lansia dan anak-anak yang memerlukan perhatian khusus. Hingga saat ini, pasokan masker dan air bersih masih mencukupi, namun cadangan logistik diperkirakan hanya bertahan 10 hari ke depan. BNPB telah mengirimkan bantuan tambahan berupa tenda, selimut, dan makanan siap saji untuk memperkuat ketersediaan logistik.
- Rusaknya tanaman pertanian seluas 500 hektar akibat abu vulkanik
- Gangguan penerbangan di Bandara Abdurrahman Saleh Malang
- 5.000 jiwa mengungsi di 15 titik di tiga kecamatan (Pronojiwo, Candipuro, Pasirian)
- Kelompok rentan (lansia dan anak-anak) sebanyak 2.000 jiwa
- Cadangan logistik hanya bertahan 10 hari, diperkuat bantuan BNPB
Evaluasi Zona Bahaya dan Langkah Mitigasi Pemerintah
Kepala PVMBG, Dr. Hendra Gunawan, menyatakan bahwa aktivitas seismik Gunung Semeru masih tinggi dengan gempa vulkanik dangkal mencapai 50 kali per hari. Potensi bahaya terbaru adalah aliran lahar hujan jika terjadi hujan deras di puncak. Oleh karena itu, PVMBG merekomendasikan warga di sepanjang sungai yang berhulu di Gunung Semeru, seperti Sungai Besuk Kobokan dan Besuk Bang, untuk menjauhi bantaran sungai. Pemetaan jalur evakuasi dan zona aman telah diperbarui, termasuk penambahan rambu-rambu evakuasi di Kecamatan Tempursari dan Pronojiwo. Bupati Lumajang, H. Thoriqul Haq, mengimbau warga di lereng untuk tetap waspada dan tidak kembali ke rumah sebelum status darurat diturunkan. Kerawanan bencana ini menjadi perhatian nasional, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah mengkaji relokasi permanen bagi warga yang bermukim di daerah paling rawan.
- Aktivitas seismik tinggi: gempa vulkanik dangkal 50 kali per hari
- Ancaman aliran lahar hujan di sungai-sungai berhulu di Semeru (Besuk Kobokan, Besuk Bang, dll.)
- Penambahan rambu evakuasi di Kecamatan Tempursari dan Pronojiwo
- Kajian relokasi permanen oleh pemerintah provinsi untuk warga di zona paling rawan
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, penguatan cadangan logistik dan perhatian khusus pada kelompok rentan lansia dan anak-anak harus menjadi prioritas utama dalam penanganan darurat. Evaluasi tata ruang kawasan rawan bencana serta percepatan rencana relokasi permanen merupakan langkah antisipatif jangka panjang yang krusial. Koordinasi antara PVMBG, BPBD, BNPB, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur perlu terus ditingkatkan untuk memastikan respons yang cepat dan tepat terhadap potensi letusan susulan, ancaman lahar hujan, serta dampak sosial-ekonomi di Kabupaten Lumajang.