Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah melaporkan bahwa delapan kabupaten di wilayahnya dilanda banjir dan tanah longsor pada Senin (19/10/2026) hingga Selasa (20/10/2026). Bencana hidrometeorologi tersebut dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mencapai 200 milimeter per hari dan memicu genangan di permukiman serta longsor di sejumlah ruas jalan. Delapan kabupaten yang terdampak adalah Kabupaten Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Magelang, dan Boyolali.
Sebaran Banjir dan Longsor di Wilayah Jawa Tengah
Berdasarkan data sementara BPBD Jawa Tengah, sebanyak 15 kecamatan di wilayah tersebut terendam banjir dengan ketinggian bervariasi antara 50 hingga 150 sentimeter. Selain itu, tercatat enam titik longsor di jalur utama penghubung Purwokerto–Wonosobo yang mengganggu arus lalu lintas kendaraan. Hingga pukul 14.00 WIB, sebanyak 2.300 jiwa terpaksa mengungsi, dan satu korban jiwa dilaporkan tertimbun longsor di Desa Gumelem, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara.
Adapun indikator kerawanan yang teridentifikasi di lapangan adalah sebagai berikut:
- Delapan kabupaten terdampak bencana banjir dan longsor, yaitu Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Magelang, dan Boyolali.
- 15 kecamatan terendam banjir dengan ketinggian 50–150 sentimeter.
- Enam titik longsor terjadi di jalur utama Purwokerto–Wonosobo.
- 2.300 jiwa mengungsi akibat rumah terendam dan akses terisolasi.
- Satu korban jiwa dilaporkan di Desa Gumelem, Banjarnegara.
Status Siaga Darurat dan Upaya Penanganan
Menindaklanjuti situasi tersebut, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menetapkan status siaga darurat bencana selama 14 hari. Posko induk diaktifkan di Kota Semarang, sedangkan posko lapangan didirikan di setiap kabupaten terdampak untuk mempercepat koordinasi evakuasi dan distribusi logistik. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk menangani dampak bencana banjir dan longsor.
Kepala BPBD Jawa Tengah, Drs. Budi Santoso, menjelaskan bahwa pemetaan daerah rawan banjir dan longsor telah dilakukan sebelumnya. Namun, intensitas hujan yang terjadi berada di luar prediksi normal. Wilayah perbukitan di lereng Gunung Slamet dan Gunung Sindoro masuk kategori zona merah karena daya dukung tanah yang menurun. Data BMKG menunjukkan fenomena La Nina lemah masih memengaruhi pola hujan di Pulau Jawa hingga akhir Oktober, sehingga potensi bencana susulan perlu diwaspadai.
Di Kabupaten Banjarnegara, Bupati H. Budhi Sarwono mengimbau warga di bantaran Sungai Serayu dan Sungai Merawu untuk tetap waspada dan mengikuti arahan petugas. Rekayasa lalu lintas diterapkan pada ruas jalan nasional yang tertimbun material longsor. BPBD juga mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor dan membuka akses. Evaluasi tanggap darurat dilakukan setiap 24 jam untuk menyesuaikan kebutuhan di lapangan. Pemerintah pusat melalui BNPB telah mengirimkan bantuan tambahan berupa perahu karet, pompa air, dan tenda pengungsi. Bantuan logistik berupa makanan, selimut, air bersih, dan obat-obatan mulai didistribusikan menggunakan helikopter ke daerah terisolasi.
Kejadian ini menegaskan pentingnya penguatan sistem peringatan dini dan investasi infrastruktur mitigasi bencana di daerah rawan. Pemerintah daerah di delapan kabupaten terdampak perlu segera melakukan evaluasi tata ruang serta pengendalian pemanfaatan lahan di kawasan lereng dan bantaran sungai. Kerawanan bencana hidrometeorologi di Jawa Tengah tahun 2026 menjadi momentum strategis untuk memperkuat kapasitas lokal dalam menghadapi curah hujan ekstrem yang dipengaruhi dinamika iklim.