Banjir kembali melanda wilayah Kabupaten Bandung, Jawa Barat, akibat luapan Sungai Citarum. Hujan dengan intensitas tinggi sejak pukul 01.00 WIB memicu genangan di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang. Ketinggian air bervariasi antara 50 hingga 120 sentimeter di pemukiman warga, menggenangi sekitar 2.500 rumah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung bersama TNI, Polri, dan relawan segera bergerak melakukan evakuasi dan pendirian posko pengungsian.
Dampak Banjir dan Langkah Evakuasi di Tiga Kecamatan
Berdasarkan data sementara BPBD Kabupaten Bandung, genangan air melanda kawasan permukiman padat penduduk di tiga kecamatan tersebut. Sekitar 780 jiwa dari berbagai usia telah dievakuasi ke tempat aman yang tersebar di lima titik posko pengungsian. Kecamatan Dayeuhkolot, yang dikenal sebagai langganan banjir, mencatatkan dampak terparah dengan tinggi genangan mencapai 120 sentimeter. Kondisi ini memaksa warga untuk mengungsi sejak dini hari.
- Kecamatan Dayeuhkolot: 320 jiwa mengungsi, genangan 100–120 cm.
- Kecamatan Baleendah: 280 jiwa mengungsi, genangan 50–90 cm.
- Kecamatan Bojongsoang: 180 jiwa mengungsi, genangan 50–80 cm.
- Total rumah terdampak: sekitar 2.500 unit di tiga kecamatan.
- Posko pengungsian: 5 titik, tersebar di sekolah dan balai desa.
Pemerintah Kabupaten Bandung telah menetapkan status siaga darurat banjir selama tiga hari ke depan. Personel gabungan dari TNI, Polri, serta relawan dikerahkan untuk membantu distribusi logistik dan layanan kesehatan di lokasi pengungsian. Wakil Bupati Bandung memimpin rapat koordinasi pada pukul 10.00 WIB untuk memastikan penanganan berjalan optimal, termasuk koordinasi dengan dinas terkait dan perangkat kecamatan.
Pemetaan Kerawanan dan Rekomendasi Penanganan Banjir
Kejadian banjir hidrometeorologi ini bukan kali pertama melanda kawasan Citarum hulu. Wilayah ini menjadi langganan banjir akibat sedimentasi sungai yang mengurangi kapasitas tampung, serta alih fungsi lahan di daerah hulu yang meningkatkan debit air permukaan. Data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan Kecamatan Dayeuhkolot masuk dalam zona sangat rawan banjir, sementara Baleendah dan Bojongsoang berada pada zona rawan tinggi. Pemetaan ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan mitigasi.
- Indikator kerawanan: luapan sungai, drainase buruk, topografi rendah.
- Penyebab utama: sedimentasi sungai dan alih fungsi lahan di hulu.
- Status zona: Dayeuhkolot (sangat rawan), Baleendah dan Bojongsoang (rawan tinggi).
Dalam rapat koordinasi yang dipimpin Wakil Bupati, dua rekomendasi utama menjadi fokus pembahasan. Pertama, evaluasi tata ruang di kawasan rawan banjir untuk mengendalikan pembangunan permukiman baru. Kedua, normalisasi Sungai Citarum secara bertahap melalui pengerukan sedimentasi dan perbaikan tanggul. Selain itu, penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas dinilai penting untuk mengurangi risiko korban jiwa.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Kabupaten Bandung diharapkan segera mengintegrasikan pemetaan kerawanan bencana ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) dan meningkatkan kapasitas BPBD dalam penanganan darurat. Sinergi lintas instansi, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, perlu diperkuat untuk mengatasi akar masalah banjir secara menyeluruh. Langkah konkret ini menjadi kunci untuk mencegah terulangnya bencana serupa di masa mendatang, khususnya saat puncak musim hujan.