|  Indonesia, WIB
Beranda › Nasional › Banjir Bandang Terjang Enam Kecamatan di Mempawah, Kalbar, Empat...
Nasional

Banjir Bandang Terjang Enam Kecamatan di Mempawah, Kalbar, Empat Warga Hilang

Banjir Bandang Terjang Enam Kecamatan di Mempawah, Kalbar, Empat Warga Hilang

Banjir bandang menerjang enam kecamatan di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, pada 27 Oktober 2026, mengakibatkan empat warga hilang dan lebih dari 2.500 jiwa mengungsi. BPBD setempat bersama tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian, sementara pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat 14 hari. Peristiwa ini mendorong perlunya penguatan sistem mitigasi bencana berbasis kewilayahan oleh pemerintah daerah.

Bencana banjir bandang menerjang enam kecamatan di Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat, pada Selasa, 27 Oktober 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah melaporkan bahwa peristiwa ini mengakibatkan sedikitnya empat warga dinyatakan hilang dan lebih dari 2.500 jiwa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Hujan dengan intensitas ekstrem yang mengguyur sejak Senin malam menjadi pemicu utama meluapnya sungai-sungai di kawasan hulu, sehingga menimbulkan banjir bandang yang merendam permukiman warga.

Dampak dan Wilayah Terdampak Banjir Bandang di Mempawah

Berdasarkan data yang dihimpun BPBD Kabupaten Mempawah, bencana banjir ini melanda enam kecamatan secara simultan, yaitu:

  • Kecamatan Jongkat
  • Kecamatan Sungai Pinyuh
  • Kecamatan Mempawah Hilir
  • Kecamatan Siantan
  • Kecamatan Segedong
  • Kecamatan Sadaniang

Di sejumlah desa, ketinggian air tercatat mencapai 1,5 hingga 3 meter, memaksa ribuan warga meninggalkan rumah mereka. Proses evakuasi masih terus dilakukan oleh tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, TNI, Polri, serta relawan setempat. Hingga saat ini, upaya pencarian terhadap empat korban hilang masih berlangsung di beberapa titik yang sulit dijangkau karena arus deras dan material lumpur yang terbawa banjir. Kondisi ini menunjukkan bahwa banjir di Kalimantan Barat bagian pesisir, khususnya Mempawah, memerlukan penanganan cepat dan terkoordinasi.

Upaya Penanganan dan Status Tanggap Darurat

Menanggapi situasi darurat tersebut, Bupati Mempawah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari terhitung sejak hari kejadian. Lima posko pengungsian telah didirikan di lokasi strategis, antara lain di Kantor Desa Jungkat dan halaman Masjid Agung Mempawah. Dinas Sosial setempat mulai mendistribusikan pasokan air bersih dan makanan siap saji untuk memenuhi kebutuhan dasar para pengungsi. Sementara itu, BPBD bersama instansi terkait terus melakukan pemetaan kerawanan wilayah pascabencana guna mengantisipasi kemungkinan banjir susulan. Menurut analisis BMKG, banjir bandang di Mempawah dipicu oleh hujan dengan intensitas ekstrem mencapai 150 mm per jam yang berlangsung lebih dari enam jam, ditambah dengan kondisi sungai yang meluap akibat sedimentasi di hulu. Faktor ini memperparah debit air yang masuk ke permukiman.

Catatan strategis bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Mempawah: peristiwa ini menegaskan perlunya penguatan sistem peringatan dini berbasis partisipasi masyarakat, normalisasi sungai secara berkala, serta penyediaan jalur evakuasi yang memadai di kecamatan rawan banjir. Kolaborasi lintas sektor antara BPBD, Dinas PUPR, dan BMKG juga perlu ditingkatkan untuk meminimalkan risiko bencana serupa di masa mendatang. Dengan demikian, upaya mitigasi struktural dan non-struktural dapat berjalan seimbang guna melindungi keselamatan dan kesejahteraan warga Mempawah, Kalimantan Barat.

Entitas dalam Berita
Organisasi: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Mempawah, Basarnas, TNI, Polri, BMKG, Dinas Sosial
Lokasi: Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, Jongkat, Sungai Pinyuh, Mempawah Hilir, Siantan, Segedong, Sadaniang, Desa Jungkat, Masjid Agung Mempawah
Berita Terkait