Banjir bandang melanda tiga kecamatan di wilayah Kabupaten Sintang, Provinsi Kalimantan Barat, pada Senin malam, 18 Oktober 2026, sekitar pukul 22.00 WIB. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sintang bersama unsur TNI mencatat sedikitnya 2.500 unit rumah terendam air dengan ketinggian mencapai 1,5 meter di sejumlah titik permukiman. Peristiwa hidrometeorologi ini memaksa lebih dari 1.000 jiwa untuk mengungsi ke tenda darurat yang didirikan di lokasi yang lebih aman.
Kronologi dan Sebaran Wilayah Terdampak
Berdasarkan laporan BPBD Kabupaten Sintang, banjir bandang mulai merendam permukiman pada malam hari setelah hujan lebat mengguyur kawasan hulu secara terus-menerus. Air dari Sungai Kapuas beserta anak-anak sungainya meluap dengan cepat, sehingga warga tidak sempat menyelamatkan sebagian besar barang berharga. Hingga pagi hari, genangan air meluas secara signifikan dan merendam tiga kecamatan di wilayah Kabupaten Sintang. Berikut rincian wilayah terdampak dan indikator kerawanan yang berhasil dihimpun oleh BPBD:
- Kecamatan Ketungau Hulu, Tempunak, dan Sepauk — tiga kecamatan yang mencatat dampak terparah dengan ketinggian genangan mencapai 1,5 meter di sejumlah desa.
- Sebanyak 2.500 unit rumah terendam, sementara lebih dari 1.000 jiwa terpaksa mengungsi ke tenda darurat yang disediakan oleh BPBD dan TNI.
- Material lumpur dan sampah menutupi ruas jalan utama di sejumlah desa, menghambat proses evakuasi warga serta distribusi logistik ke lokasi pengungsian.
Kondisi ini menegaskan kembali bahwa Kabupaten Sintang, khususnya wilayah di sepanjang aliran Sungai Kapuas, merupakan zona rawan bencana hidrometeorologi basah. Pemerintah Kabupaten Sintang telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari sejak kejadian. Penetapan ini bertujuan untuk mempercepat evakuasi warga, pendirian posko pengungsian, serta memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi secara cepat dan terkoordinasi.
Respons Pemerintah dan Penanganan Darurat
Dalam penanganan darurat, Pemerintah Kabupaten Sintang mengerahkan alat berat untuk membersihkan material lumpur dan sampah yang menutupi permukiman serta ruas jalan. BPBD berkoordinasi dengan TNI dalam pendirian tenda darurat dan pendistribusian kebutuhan dasar bagi para pengungsi. BNPB telah mengirimkan logistik berupa makanan, selimut, dan tenda pengungsian untuk mendukung operasi kemanusiaan di lokasi terdampak secara berkelanjutan.
Kepala BPBD Kabupaten Sintang menyatakan bahwa banjir bandang yang melanda Kalimantan Barat, khususnya di Sintang, dipicu oleh hujan lebat yang mengguyur kawasan hulu secara ekstrem. Kondisi ini menyebabkan Sungai Kapuas dan anak-anak sungainya meluap melebihi kapasitas normal. Ia menegaskan bahwa pihaknya terus melakukan pemantauan dan koordinasi lintas sektor untuk memastikan penanganan bencana berjalan optimal.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas di wilayah hulu dan sepanjang aliran Sungai Kapuas. Selain itu, pemetaan kerawanan banjir bandang di Kabupaten Sintang harus diperbarui secara berkala untuk mendukung perencanaan mitigasi yang lebih efektif. Kolaborasi antara BPBD, TNI, dan instansi terkait perlu ditingkatkan guna mempercepat respons darurat dan meminimalkan dampak bencana serupa di masa mendatang.