Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merilis peta prakiraan potensi bencana gerakan tanah dan banjir bandang untuk Oktober 2026. Berdasarkan pemetaan terbaru, sebanyak 4.850 kecamatan di 38 provinsi masuk dalam kategori potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Dari jumlah tersebut, 41 kecamatan di 12 provinsi masuk kategori bahaya tinggi dengan kerentanan ekstrem terhadap tanah longsor. Sementara itu, ancaman banjir bandang atau aliran bahan rombakan tercatat mengintai 405 kecamatan yang tersebar di 18 provinsi.
Pemetaan kerawanan ini menjadi instrumen kunci bagi pemerintah daerah dalam menyusun rencana kontinjensi dan mitigasi bencana berbasis wilayah. Badan Geologi mengidentifikasi sebaran ancaman secara spasial agar daerah memiliki acuan dalam menetapkan status siaga dan mengalokasikan sumber daya tanggap darurat. Wilayah dengan kategori bahaya tinggi perlu mendapatkan prioritas dalam penyusunan dokumen rencana penanggulangan bencana dan pengembangan sistem peringatan dini.
Konsentrasi Kerawanan Banjir Bandang di Pulau Jawa
Peta Badan Geologi menunjukkan konsentrasi kerawanan banjir bandang terpusat di Pulau Jawa. Dari total 405 kecamatan yang teridentifikasi rawan banjir bandang, sebaran terbesar berada di tiga provinsi:
- Jawa Barat: 112 kecamatan
- Jawa Timur: 77 kecamatan
- Jawa Tengah: 45 kecamatan
Selain banjir bandang, Badan Geologi juga mencatat 41 kecamatan dengan kategori bahaya tinggi gerakan tanah yang tersebar di 12 provinsi. Wilayah-wilayah tersebut memiliki kerentanan ekstrem terhadap tanah longsor, terutama pada zona berlereng curam, litologi rapuh, dan tutupan lahan kritis. Pemerintah daerah di provinsi-provinsi tersebut disarankan segera memetakan jalur evakuasi serta menentukan lokasi pengungsian yang aman bagi masyarakat.
El Nino Memperkuat Potensi Bencana Hidrometeorologi
Ancaman banjir bandang dan gerakan tanah pada Oktober 2026 diprediksi makin masif akibat anomali iklim El Nino berintensitas sangat kuat yang diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat awal musim hujan di 61,08% wilayah daratan Indonesia diprediksi mundur. Kondisi ini menyebabkan hujan berintensitas tinggi turun mendadak di atas tanah yang telah mengering dan rapuh, sehingga daya rusak gerakan tanah dan banjir bandang berpotensi meningkat secara signifikan.
Peringatan ini dikeluarkan untuk meningkatkan kewaspadaan daerah-daerah rawan, khususnya yang berada di dalam peta potensi bencana. Pemerintah daerah tidak cukup hanya mengandalkan respons darurat, tetapi harus memanfaatkan data pemetaan Badan Geologi sebagai dasar perencanaan pembangunan dan penataan ruang. Daerah dengan tingkat kerawanan tinggi perlu segera menguji kesiapan infrastruktur mitigasi, seperti tanggul, saluran drainase, dan sistem peringatan dini banjir.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah di wilayah yang masuk peta potensi kerawanan perlu segera memperbarui dokumen rencana kontinjensi, melakukan simulasi evakuasi, dan memperkuat sosialisasi mitigasi kepada masyarakat. Kolaborasi dengan Badan Geologi dan BMKG untuk pemutakhiran data spasial menjadi langkah penting agar kebijakan penanggulangan bencana berjalan efektif. Pemetaan kerawanan harus diterjemahkan menjadi kebijakan pengendalian pemanfaatan lahan, terutama di kawasan rawan banjir bandang dan gerakan tanah.