Pemerintah Kabupaten Aceh Timur secara resmi memperpanjang status tanggap darurat bencana banjir hingga 10 November 2026. Keputusan ini ditetapkan oleh Bupati Aceh Timur, H. Hasballah M. Thaib, pada Selasa, 20 Oktober 2026, melalui rapat koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi terkait. Perpanjangan masa tanggap darurat tersebut merupakan respons atas meluasnya genangan banjir yang sejak 15 Oktober 2026 merendam lima kecamatan akibat meluapnya Sungai Peureulak dan intensitas hujan tinggi yang mencapai lebih dari 150 mm per hari. Hingga berita ini diturunkan, banjir masih merendam 3.200 unit rumah dan 1.500 hektare lahan sawah, serta memaksa 4.500 warga mengungsi di 12 titik pengungsian.
Kronologi dan Dampak Banjir di Wilayah Terdampak
Banjir yang melanda Kabupaten Aceh Timur dipicu oleh curah hujan ekstrem yang mengguyur wilayah hulu Sungai Peureulak sejak pertengahan Oktober. Debit air yang tinggi menyebabkan sungai meluap dan merendam permukiman serta lahan pertanian di lima kecamatan. Berdasarkan data BPBD Aceh Timur, wilayah yang terdampak meliputi:
- Kecamatan Peureulak
- Kecamatan Peureulak Barat
- Kecamatan Peureulak Timur
- Kecamatan Simpang Ulim
- Kecamatan Madat
BPBD Aceh Timur mencatat ketinggian air di lokasi terdampak bervariasi antara 30 cm hingga 150 cm. Lahan sawah seluas 1.500 hektare terancam gagal panen karena terendam lebih dari seminggu. Kondisi ini diperparah oleh prakiraan BMKG yang menyebutkan potensi hujan deras masih akan berlangsung hingga akhir Oktober, sehingga risiko banjir susulan tetap tinggi. Genangan terluas terjadi di Kecamatan Peureulak dan Peureulak Barat, yang menjadi titik konsentrasi pengungsian warga.
Upaya Penanganan Bencana dan Kebutuhan Logistik
Dalam rangka penanganan bencana, Pemerintah Provinsi Aceh telah menerjunkan tim taruna siaga bencana serta mengirimkan bantuan berupa perahu karet dan pompa air untuk mempercepat drainase di lokasi terdampak. Pos komando darurat didirikan di Kantor Camat Peureulak sebagai pusat koordinasi lapangan. Kepala BPBD Aceh Timur, Ahmad Yani, menyatakan bahwa kebutuhan logistik seperti makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan sudah mencukupi untuk sementara waktu. Namun, bantuan selimut dan tenda keluarga masih sangat dibutuhkan untuk mendukung kenyamanan para pengungsi.
Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Timur turut aktif melakukan penyemprotan disinfektan di area pengungsian dan permukiman yang mulai surut, serta membuka layanan kesehatan gratis bagi warga terdampak. Langkah ini untuk mencegah timbulnya penyakit pascabanjir, seperti diare dan infeksi saluran pernapasan. Evaluasi terhadap situasi di lapangan akan dilakukan setiap pekan oleh BPBD bersama instansi terkait guna menentukan kapan status tanggap darurat dapat dicabut. Selain itu, koordinasi dengan pemerintah provinsi dan pusat terus diperkuat untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran dan percepatan pemulihan infrastruktur dasar di wilayah terdampak.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Kabupaten Aceh Timur perlu memperkuat sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi dan meningkatkan kapasitas drainase di kawasan rawan banjir, khususnya di daerah aliran Sungai Peureulak. Penguatan infrastruktur mitigasi serta penyusunan peta kerawanan banjir yang lebih akurat perlu menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah. Langkah preventif ini penting untuk mengurangi risiko kerugian ekonomi dan sosial pada musim penghujan mendatang, sekaligus meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah dalam menghadapi potensi bencana serupa.