|  Indonesia, WIB
Beranda › Regional › Pemprov Jatim Rilis Peta Kerawanan Bencana Kekeringan 2026, 15 Ka...
Regional

Pemprov Jatim Rilis Peta Kerawanan Bencana Kekeringan 2026, 15 Kabupaten Masuk Status Siaga

Pemprov Jatim Rilis Peta Kerawanan Bencana Kekeringan 2026, 15 Kabupaten Masuk Status Siaga

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui BPBD merilis Peta Kerawanan Bencana Kekeringan 2026 yang menetapkan 15 kabupaten dalam status siaga, meliputi wilayah selatan, utara, dan Madura. Langkah antisipasi mencakup edukasi pola tanam adaptif, koordinasi dengan TNI/Polri, serta penguatan logistik air bersih. Pemerintah daerah diimbau segera menyusun rencana kontinjensi berbasis peta tersebut guna meminimalkan dampak kekeringan.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) secara resmi merilis Peta Kerawanan Bencana Kekeringan Tahun 2026 pada awal tahun ini. Berdasarkan analisis data curah hujan, tutupan lahan, dan ketersediaan sumber air, sebanyak 15 kabupaten ditetapkan dalam status siaga kekeringan. Peta ini menjadi pedoman bagi pemerintah kabupaten untuk menyusun rencana kontinjensi dan memfokuskan sumber daya pada wilayah paling rentan. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menginstruksikan seluruh jajaran daerah siaga untuk segera mempersiapkan posko dan logistik tanggap darurat guna mengantisipasi dampak kekeringan yang diperkirakan mencapai puncak pada musim kemarau mendatang.

Wilayah Siaga dan Indikator Kerawanan

Kelima belas kabupaten yang masuk status siaga meliputi wilayah di selatan, utara, dan Madura. Berikut daftar lengkapnya:

  • Pacitan
  • Ponorogo
  • Trenggalek
  • Tulungagung
  • Blitar
  • Lumajang
  • Jember
  • Bojonegoro
  • Tuban
  • Lamongan
  • Gresik
  • Bangkalan
  • Sampang
  • Pamekasan
  • Sumenep

Indikator kerawanan didasarkan pada parameter curah hujan rendah, tutupan lahan kritis, dan keterbatasan akses sumber air permukaan maupun tanah. Pemutakhiran peta kerawanan dilakukan setiap tahun sebagai bagian dari sistem peringatan dini daerah. Data kerawanan spasial juga akan disinkronkan dengan informasi dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengenai kondisi waduk dan bendungan utama di Jawa Timur. Hal ini bertujuan agar intervensi pemerintah dapat dilakukan secara lebih terukur, tepat sasaran, dan antisipatif.

Langkah Antisipasi dan Koordinasi Daerah

Gubernur Khofifah menginstruksikan Dinas Pertanian untuk mengedukasi petani mengenai pola tanam adaptif dan penggunaan air irigasi yang efisien guna mengurangi dampak ekonomi akibat kekeringan. BPBD Jatim telah berkoordinasi dengan TNI, Polri, dan relawan untuk mendukung operasi penyaluran air bersih ke daerah yang paling sulit akses airnya. Selain itu, logistik tanggap darurat seperti tangki air dan hidran umum akan diperkuat di titik-titik kritis. Edukasi publik mengenai konservasi air dan adaptasi kekeringan juga digencarkan sejak dini, terutama menjelang puncak musim kemarau. Pemantauan berkala terhadap debit waduk dan sumur pantau menjadi kunci dalam mitigasi bencana kekeringan di Jawa Timur.

Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah di 15 kabupaten siaga diharapkan segera menyusun rencana kontinjensi berbasis peta kerawanan yang telah dirilis. Koordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas Pertanian, Dinas PUPR, dan instansi terkait perlu diperkuat untuk memastikan kesiapan logistik dan respons cepat terhadap potensi krisis air bersih. Langkah preventif ini menjadi prioritas guna menjaga stabilitas wilayah dan meminimalkan kerugian ekonomi akibat kekeringan. Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan situasi dan memperbarui kebijakan mitigasi secara adaptif sesuai dengan dinamika perubahan iklim.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Khofifah Indar Parawansa
Organisasi: Pemerintah Provinsi Jawa Timur, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Kementerian PUPR, Dinas Pertanian
Lokasi: Jawa Timur, Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Lumajang, Jember, Bojonegoro, Tuban, Lamongan, Gresik, Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep
Berita Terkait