Pemerintah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mendistribusikan 6 juta liter air bersih ke wilayah terdampak kekeringan ekstrem. Krisis air bersih ini melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten TTS, terutama Kecamatan Mollo Selatan, Mollo Utara, dan Amanuban, yang sejak Agustus hingga Oktober 2026 tidak mengalami hujan signifikan. Distribusi dilakukan menggunakan 12 unit truk tangki yang dikerahkan secara bergilir ke 13 desa dengan kategori krisis air parah. Langkah ini merupakan respons darurat terhadap peningkatan kerawanan bencana kekeringan di wilayah tersebut.
Krisis Kekeringan dan Upaya Penanggulangan di TTS
Sekretaris Daerah Kabupaten TTS, Petrus Bata, menyampaikan bahwa hingga Minggu, 19 Oktober 2026, total volume air bersih yang telah dikirim mencapai 6 juta liter. Prioritas utama distribusi diberikan kepada desa-desa yang mengalami kekeringan paling parah, di antaranya:
- Desa Oinlasi (Kecamatan Mollo Selatan)
- Desa Nenas (Kecamatan Mollo Utara)
- Desa Oebesa (Kecamatan Amanuban)
- 10 desa lainnya yang berada dalam status krisis air berdasarkan data BPBD TTS
Bupati TTS menginstruksikan warga untuk menghemat penggunaan air dan mengaktifkan sumur bor milik pemerintah yang masih berfungsi. Dinas Kesehatan setempat juga mengeluarkan imbauan terkait peningkatan risiko diare akibat keterbatasan air bersih. Pemerintah daerah terus memantau perkembangan kerawanan bencana kekeringan ini dan menyiagakan personel serta logistik tambahan.
Rencana Strategis Pemerintah Daerah untuk Ketahanan Air
Dalam jangka panjang, Pemerintah Provinsi NTT berencana membangun sistem pipanisasi yang bersumber dari Dam Kambaniru. Proyek ini ditargetkan dapat memasok air bersih secara berkelanjutan ke daerah-daerah kering di kawasan Timor Barat, termasuk Kabupaten TTS. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pada distribusi air darurat serta memperkuat ketahanan air masyarakat menghadapi musim kemarau ekstrem.
Catatan strategis bagi pemerintah daerah: Perlu segera dilakukan pemetaan ulang titik-titik rawan kekeringan di seluruh kecamatan TTS untuk mengoptimalkan alokasi sumber daya darurat. Selain itu, percepatan pembangunan infrastruktur pipanisasi dan rehabilitasi sumur bor eksisting harus menjadi prioritas agar kesiapsiagaan terhadap kerawanan bencana kekeringan di NTT dapat ditingkatkan secara signifikan.