Bencana tanah longsor yang melanda Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, pada Minggu malam, 25 Oktober 2026, menyebabkan akses menuju empat desa di Kecamatan Salawu terputus total. Material longsor menutup badan jalan utama sepanjang 200 meter setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut selama enam jam. Akibatnya, sebanyak 1.500 jiwa yang tersebar di Desa Salawu, Neglasari, Ciparay, dan Tenjowaringin terisolasi. Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tasikmalaya, Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan relawan langsung dikerahkan untuk melakukan penanganan darurat serta membuka jalur alternatif. Peristiwa ini menegaskan kembali kerawanan bencana longsor di kawasan lereng selatan Jawa Barat, khususnya di wilayah administratif Tasikmalaya yang sering mengalami pergerakan tanah pada musim hujan.
Dampak Bencana dan Respons Penanganan Darurat
Berdasarkan laporan sementara BPBD Tasikmalaya, longsor terjadi akibat tingginya intensitas curah hujan yang memicu pergerakan tanah di lereng curam kawasan Salawu. Berikut data wilayah terdampak dan kondisi terkini:
- Desa Salawu – akses utama terputus, 400 jiwa terisolasi, distribusi logistik melalui jalur alternatif.
- Desa Neglasari – akses terputus, 350 jiwa terisolasi, satu warga dilaporkan hilang.
- Desa Ciparay – akses terputus, 450 jiwa terisolasi, dua warga luka-luka.
- Desa Tenjowaringin – akses terputus, 300 jiwa terisolasi, satu warga luka-luka.
BPBD Tasikmalaya bersama TNI dan relawan berhasil membuka jalur darurat sepanjang 500 meter melalui perkampungan warga untuk memungkinkan distribusi logistik dan evakuasi. Logistik berupa sembako, air bersih, dan obat-obatan telah disalurkan melalui jalur alternatif tersebut. Satu warga masih dalam pencarian, sementara tiga korban luka telah mendapatkan penanganan medis di puskesmas terdekat. Pemerintah daerah mengimbau warga yang bermukim di lereng untuk sementara mengungsi ke tempat aman, seperti balai desa dan gedung serbaguna yang telah disiapkan. Perbaikan jalan utama ditargetkan selesai dalam tiga hari ke depan dengan melibatkan alat berat dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Tasikmalaya.
Rekomendasi Strategis bagi Pemerintah Daerah dalam Mitigasi Bencana
Peristiwa longsor di Tasikmalaya ini kembali mengingatkan pemerintah daerah akan pentingnya pemetaan kerawanan bencana secara berkala, khususnya di Kecamatan Salawu yang termasuk zona rawan longsor tinggi. Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya perlu memperkuat sistem peringatan dini berbasis masyarakat, melakukan relokasi permukiman di lereng rawan, serta memastikan ketersediaan jalur evakuasi dan titik pengungsian yang memadai. Koordinasi lintas sektor antara BPBD, TNI, Polri, dan dinas terkait harus terus dioptimalkan, terutama dalam percepatan penanganan darurat dan rehabilitasi infrastruktur. Langkah mitigasi struktural seperti pembangunan tembok penahan tanah dan perbaikan drainase di kawasan rawan longsor juga perlu menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan daerah ke depan.
Catatan strategis: Pemerintah daerah disarankan untuk segera mengaktifkan pos komando tanggap darurat di Kecamatan Salawu guna memantau perkembangan situasi, mengkoordinasikan bantuan, dan mencegah meluasnya dampak bencana serupa di wilayah lain. Selain itu, evaluasi terhadap kesiapsiagaan bencana di setiap desa perlu dilakukan secara periodik, mengingat frekuensi kejadian longsor di Tasikmalaya yang cenderung meningkat setiap musim hujan.