Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Pemerintah Daerah Provinsi Banten dan Lampung telah menyelenggarakan geladi lapangan dan simulasi skala besar untuk menguji kesiapsiagaan menghadapi ancaman tsunami di kawasan pesisir Selat Sunda. Kegiatan operasional ini bertujuan mengevaluasi efektivitas sistem peringatan dini, kesiapan jalur evakuasi, serta mekanisme koordinasi antarlembaga dalam skenario gempa kuat yang memicu gelombang tsunami, mencerminkan komitmen strategis untuk meningkatkan ketangguhan wilayah.
Pemetaan Kerawanan dan Prioritas Wilayah Sasaran Simulasi
Pemilihan lokasi simulasi didasarkan pada pemetaan risiko berbasis wilayah yang mempertimbangkan ancaman ganda: aktivitas tektonik subduksi lempeng dan potensi longsoran bawah laut Gunung Anak Krakatau. BNPB dan pemerintah daerah memfokuskan pelaksanaan pada daerah administratif yang berbatasan langsung dengan Selat Sunda berdasarkan peta bahaya tsunami, zonasi kerentanan, serta pertimbangan kepadatan penduduk dan intensitas aktivitas ekonomi. Indikator kerawanan utama mencakup:
- Sejarah kejadian tsunami (Krakatau 1883 & 2018).
- Karakteristik fisik garis pantai.
- Tingkat kepadatan permukiman penduduk.
Wilayah prioritas yang terlibat dalam kegiatan ini meliputi:
- Provinsi Banten: Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, dan Kota Cilegon.
- Provinsi Lampung: Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Tanggamus, Kabupaten Pesawaran, dan Kota Bandar Lampung.
Evaluasi Sistem Komando dan Kesiapan Operasional Daerah
Kegiatan simulasi melibatkan ribuan peserta dari lintas sektor, termasuk masyarakat, aparatur pemerintah daerah, TNI, Polri, dan relawan, yang berfungsi sebagai instrumen evaluasi krusial bagi struktur komando penanggulangan bencana daerah. Fokus evaluasi mencakup tingkat kesiapan operasional di lapangan dan efektivitas koordinasi antarlembaga. Hasil detil dari pelaksanaan akan menjadi bahan koreksi mendasar bagi dokumen rencana kontinjensi dan protokol evakuasi di tingkat kabupaten/kota. Pemeriksaan teknis menyeluruh juga dilakukan terhadap infrastruktur peringatan dini, seperti kondisi sirine dan jalur komunikasi, untuk memastikan keandalan sistem saat bencana sesungguhnya terjadi di kawasan Selat Sunda.
Upaya pengujian kesiapsiagaan ini merupakan bagian integral dari strategi nasional dan daerah dalam mengurangi risiko bencana, khususnya di wilayah pesisir yang menjadi pusat aktivitas sosial-ekonomi strategis. Hasil simulasi diharapkan dapat memperkuat kapasitas responsif pemerintah daerah dan masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami. Bagi pemerintah daerah di Provinsi Banten dan Lampung, rekomendasi strategis yang dapat ditindaklanjuti adalah mempercepat penyempurnaan peta evakuasi berbasis RT/RW, meningkatkan frekuensi sosialisasi protokol bencana kepada komunitas pesisir, dan mengintegrasikan data hasil simulasi ini ke dalam revisi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) serta Rencana Kontinjensi Daerah.