Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda dua kabupaten di Provinsi Riau, yakni Indragiri Hilir (Inhil) dan Indragiri Hulu (Inhu), dengan fokus pada kawasan lahan gambut yang rawan terbakar. Satuan Tugas Udara Provinsi Riau telah mengerahkan tiga unit helikopter waterbombing untuk memadamkan titik api yang terpantau, didukung oleh upaya pemadaman darat dari Tim Gabungan TNI, Polri, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Kepala BPBD dan Damkar Provinsi Riau, Edy Afrizal, menegaskan bahwa penguatan operasi udara masih diperlukan karena titik api belum sepenuhnya terkendali. Kondisi ini menegaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau masih menjadi ancaman serius pada musim kemarau, dengan potensi penyebaran cepat akibat karakteristik tanah gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan secara total.
Lokasi dan Skala Karhutla di Riau
Berdasarkan laporan Satgas Udara, karhutla teridentifikasi di dua titik utama dengan karakteristik wilayah dan respons penanganan yang berbeda:
- Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) — Karhutla terjadi di Desa Semambu, Kecamatan Gaung, yang merupakan area lahan gambut. Satu unit helikopter waterbombing dikerahkan untuk menjangkau lokasi yang sulit diakses melalui jalur darat.
- Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu) — Karhutla melanda wilayah Kuala Cenaku yang telah terbakar sejak Senin, 14 September 2026. Dua unit helikopter waterbombing diterjunkan, dengan pemadaman darat diintensifkan oleh tim gabungan setempat.
Pemetaan kerawanan menunjukkan bahwa lahan gambut di kedua kabupaten tersebut memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap kebakaran hutan, terutama saat musim kemarau. Kondisi ini diperparah oleh faktor antropogenik seperti pembukaan lahan tanpa izin dan aktivitas pertanian yang tidak terkontrol. Oleh karena itu, Pemerintah Daerah Provinsi Riau dan kabupaten terdampak perlu segera mengidentifikasi titik-titik rawan untuk mempercepat respons pemadaman.
Upaya Modifikasi Cuaca dan Evaluasi Operasi
Selain operasi pemadaman udara, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaksanakan upaya modifikasi cuaca (OMC) menggunakan pesawat Cessna Caravan. Sebanyak 1.000 kilogram Natrium Klorida (NaCl) telah disemai di awan potensial, yang berhasil menurunkan hujan merata di hampir seluruh wilayah Riau. Namun, intensitas hujan di lokasi karhutla utama — Kuala Cenaku dan Desa Semambu — masih tipis, sehingga belum mampu memadamkan seluruh titik api. OMC terus dilaksanakan untuk meningkatkan curah hujan dan mendukung upaya pemadaman total.
Evaluasi operasi menunjukkan bahwa koordinasi lintas sektor antara TNI, Polri, BPBD, dan dinas terkait harus dioptimalkan untuk memastikan respons cepat dan efektif. Selain itu, pengelolaan risiko kebakaran hutan dan lahan gambut perlu diintegrasikan dalam rencana tata ruang wilayah guna meminimalkan dampak ekologis dan sosial ekonomi yang lebih luas. Pemerintah Daerah Provinsi Riau direkomendasikan untuk memperkuat langkah preventif, seperti pembasahan lahan gambut secara berkala, pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan, serta sosialisasi bahaya kebakaran hutan kepada masyarakat di zona rawan.