Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), diguncang gempa bumi berkekuatan 5,8 magnitudo pada pukul 05.12 WITA. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan pusat gempa berada di 32 kilometer timur laut Larantuka dengan kedalaman 10 kilometer. Episenter tersebut berada di wilayah laut, sehingga gempa bumi tidak berpotensi tsunami. Meskipun demikian, BMKG mengingatkan bahwa guncangan dengan kedalaman dangkal ini berpotensi merusak bangunan. BPBD Flores Timur langsung melakukan pendataan dampak bencana di wilayah terdampak.
Dampak Gempa Bumi di Flores Timur: 60 Rumah Rusak dan 200 Jiwa Mengungsi
Berdasarkan laporan sementara BPBD Flores Timur, gempa bumi menyebabkan kerusakan di Kecamatan Ile Bura. Data kerusakan yang berhasil dihimpun dari lapangan antara lain:
- 50 rumah rusak ringan di Kecamatan Ile Bura;
- 10 rumah rusak berat di Kecamatan Ile Bura;
- 1 unit fasilitas kesehatan di Desa Lewoleba mengalami kerusakan pada bagian atap;
- sekitar 200 jiwa mengungsi ke tempat terbuka karena khawatir terjadi gempa susulan;
- tidak ada korban jiwa yang dilaporkan dalam peristiwa ini.
BPBD Flores Timur masih melakukan verifikasi dan pemutakhiran data kerusakan di lokasi kejadian. Kerusakan paling banyak terjadi pada bangunan rumah tinggal warga, sementara fasilitas pelayanan kesehatan juga terdampak di Desa Lewoleba.
Berdasarkan data BPBD Flores Timur, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa gempa bumi ini. Namun, ratusan warga memilih mengungsi ke tempat terbuka sebagai langkah antisipasi terhadap gempa susulan. Warga yang mengungsi masih bertahan di titik pengungsian hingga kondisi dinyatakan aman oleh petugas. Guncangan yang terjadi pada pagi hari membuat warga lebih memilih berada di luar rumah untuk menghindari risiko bangunan runtuh.
Posko Darurat dan Langkah Strategis Pemerintah Kabupaten
Pemerintah Kabupaten Flores Timur melalui BPBD telah membuka posko darurat di Kantor Kecamatan Larantuka. Posko ini berfungsi sebagai pusat koordinasi penanganan bencana, termasuk pendataan kerusakan, pelayanan pengungsi, dan penyaluran bantuan logistik. Tim SAR gabungan juga dikerahkan untuk memantau kondisi di lapangan.
Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap gempa susulan yang masih berpotensi terjadi. BPBD juga mengingatkan warga agar tidak menempati bangunan yang mengalami retak atau kerusakan struktural sebelum dilakukan pemeriksaan oleh petugas. Evaluasi terhadap bangunan tahan gempa menjadi prioritas utama dalam upaya pengurangan risiko kerusakan pada kejadian bencana berikutnya.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem pemetaan kerawanan wilayah di Kabupaten Flores Timur, khususnya di Kecamatan Ile Bura dan wilayah pesisir Larantuka. Mengingat NTT merupakan daerah yang rawan gempa bumi, program mitigasi struktural dan non-struktural harus dilaksanakan secara berkelanjutan. Peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana serta penguatan standar bangunan tahan gempa menjadi langkah penting untuk meminimalkan dampak gempa bumi di masa mendatang.