Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo, Sumatera Utara, memutakhirkan peta rawan longsor di kawasan lereng Gunung Sinabung menyusul tingginya curah hujan yang melanda dataran tinggi Karo. Berdasarkan hasil pemetaan menggunakan citra satelit dan survei lapangan, sebanyak 14 desa yang tersebar di dua kecamatan ditetapkan sebagai zona rawan tinggi longsor. Pemutakhiran ini menjadi bagian dari upaya mitigasi struktural dan non-struktural yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Karo untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi di wilayah teritorial lereng Sinabung.
Sebaran dan Indikator Kerawanan Longsor di Lereng Sinabung
BPBD Karo mengidentifikasi 14 desa rawan longsor yang masuk dalam kategori zona merah. Desa-desa tersebut berada di Kecamatan Naman Teran dan Kecamatan Tiganderket, dua wilayah administratif yang secara geografis berada pada jalur paparan material vulkanik Gunung Sinabung. Kepala Pelaksana BPBD Karo, Natanail Peranginangin, menjelaskan bahwa peningkatan ancaman longsor disebabkan oleh kondisi tanah gembur yang terbentuk dari akumulasi material vulkanik Sinabung. Peta kerawanan ini diperbarui secara berkala setiap enam bulan, dengan pembaruan terakhir dilakukan pada Oktober 2026.
- Kecamatan Naman Teran: Desa Gamber, Desa Simacem, dan Desa Lau Gugung.
- Kecamatan Tiganderket: Desa Kutambaru, Desa Tilat, dan Desa Turpulu.
- Total desa rawan tinggi: 14 desa, mencakup pula desa-desa lain yang tidak disebutkan secara eksplisit dalam laporan awal.
- Indikator kerawanan: kemiringan lereng >30 derajat, tanah bertekstur gembur, dan keberadaan retakan tanah pasca erupsi.
BPBD Karo juga memasang rambu evakuasi dan jalur evakuasi di seluruh desa zona merah, serta menyiagakan alat berat di tiga titik strategis untuk mempercepat penanganan darurat jika terjadi longsor. Langkah ini diambil sebagai respons atas arahan Bupati Karo untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi musim hujan yang diprediksi berlangsung hingga awal tahun.
Simulasi Evakuasi dan Penguatan Infrastruktur Penahan Lereng
Sebagai bagian dari kesiapan operasional, Pemerintah Kabupaten Karo menggelar simulasi evakuasi pada 10 Oktober di Desa Gamber, Kecamatan Naman Teran. Simulasi ini melibatkan 400 warga dan relawan dari berbagai unsur, termasuk Tagana, PMI, dan personel TNI-Polri. Kegiatan tersebut bertujuan memastikan jalur evakuasi menuju lokasi pengungsian di Lapangan Sepak Bola Naman Teran berfungsi efektif dan dapat diakses dalam kondisi darurat. Dalam simulasi tersebut, warga diarahkan mengikuti prosedur evakuasi mandiri apabila hujan deras berlangsung lebih dari dua jam dengan intensitas tinggi.
Selain langkah non-struktural, Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Karo diminta memperkuat lereng di ruas jalan raya Kecamatan Mardingding dan Kecamatan Kutabuluh menggunakan konstruksi bronjong dan perbaikan drainase. Penguatan ini dinilai krusial untuk menjaga aksesibilitas logistik dan mobilitas warga, mengingat kedua kecamatan tersebut merupakan jalur penghubung antarwilayah di dataran tinggi Karo. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan Balai Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan untuk melakukan kajian geoteknik lanjutan terhadap zona retakan tanah yang teridentifikasi di sejumlah titik.
Sebagai catatan strategis, BPBD Karo merekomendasikan agar pemerintah desa di zona rawan longsor membentuk tim siaga bencana desa yang dilengkapi alat komunikasi darurat dan sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal. Selain itu, perlu adanya pengaturan tata guna lahan yang ketat di kawasan lereng Sinabung, khususnya untuk permukiman dan infrastruktur publik. Penguatan kapasitas masyarakat melalui pelatihan rutin dan simulasi berkala juga harus menjadi prioritas agar respons terhadap ancaman longsor dapat berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi di seluruh wilayah terdampak.