Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, menetapkan status siaga banjir di empat kecamatan rawan pada Jumat, 30 Oktober 2026. Keempat kecamatan tersebut meliputi Kemiri, Butuh, Pituruh, dan Kaligesik. Penetapan status ini menyusul tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah selatan Kabupaten Purworejo sejak Kamis malam hingga Jumat pagi. BPBD Purworejo mengerahkan personel untuk memantau debit air di empat pos pantau serta mengimbau warga di sepanjang aliran Sungai Bogowonto mewaspadai potensi banjir kiriman dari lereng Gunung Sumbing.
Pemetaan Kerawanan Banjir di Wilayah Selatan Purworejo
Berdasarkan laporan lapangan, genangan air telah merendam sejumlah desa di Kecamatan Kaligesik. Camat Kaligesik, Bambang Sutrisno, melaporkan bahwa Desa Kaligesik Wetan dan Ngadirejo mengalami genangan dengan ketinggian bervariasi antara 40 hingga 70 sentimeter. Data BPBD Kabupaten Purworejo mencatat setidaknya 350 kepala keluarga terdampak banjir pada kejadian sebelumnya. Adapun indikator kerawanan yang menjadi acuan status siaga meliputi:
- Ketinggian debit air Sungai Bogowonto yang dipantau di empat pos pengamatan;
- Intensitas hujan di wilayah lereng Gunung Sumbing yang berpotensi menghasilkan banjir kiriman;
- Kondisi tanggul dan pintu air bendungan di hulu yang dikelola Balai Besar Wilayah Sungai Serayu-Opak;
- Kapasitas drainase dan topografi permukiman di empat kecamatan rawan bencana.
Pemetaan kerawanan wilayah dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah indikator yang disusun BPBD bersama perangkat daerah terkait. Data ini menjadi dasar penerbitan status siaga dan penempatan personel di titik rawan, sekaligus memperbarui peta kebencanaan Kabupaten Purworejo.
Koordinasi Kesiapsiagaan dan Rencana Evakuasi
Dalam menghadapi potensi banjir susulan, Pemerintah Kabupaten Purworejo menyiagakan dapur umum dan perahu karet di Kantor Kecamatan Butuh. Fasilitas tersebut disiapkan untuk melayani kebutuhan dasar warga apabila terjadi evakuasi. Koordinator Taruna Siaga Bencana (Tagana) Purworejo, Slamet Riyadi, menyatakan bahwa rencana evakuasi telah disusun hingga tingkat rukun warga (RW). Masyarakat diminta segera menghubungi call center 112 apabila terjadi peningkatan debit air secara signifikan di lingkungan masing-masing.
BPBD Kabupaten Purworejo juga berkoordinasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu-Opak untuk memantau pintu air bendungan yang berada di hulu. Koordinasi ini penting untuk mengantisipasi adanya banjir kiriman yang dapat memperparah genangan di sepanjang aliran Sungai Bogowonto. Selain itu, personel gabungan dari BPBD, Tagana, dan perangkat kecamatan disiagakan di lokasi rawan untuk mempercepat penanganan jika terjadi peningkatan status bencana.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Daerah Kabupaten Purworejo perlu memperkuat sistem peringatan dini berbasis masyarakat di empat kecamatan rawan. Pemetaan kerawanan wilayah dan uji prosedur evakuasi secara berkala menjadi langkah penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Sinergi antara BPBD, BBWS Serayu-Opak, serta pemerintah kecamatan dan desa harus terus dijaga agar dampak banjir dapat diminimalkan.