Banyuwangi, Swara Teritori — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, meningkatkan status kesiapsiagaan menghadapi ancaman hidrometeorologi menyusul hujan berintensitas tinggi yang melanda sejumlah wilayah pada Senin dini hari, 2 November 2026. Hujan deras di kawasan hulu, terutama Kecamatan Licin dan Songgon, meningkatkan debit air sungai dan memicu sejumlah kejadian bencana. Kepala Pelaksana BPBD Banyuwangi, Partana, menegaskan bahwa potensi hujan ekstrem tetap perlu diwaspadai meskipun Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat Kabupaten Banyuwangi masih berada dalam periode musim kemarau.
Kronologi Kejadian dan Titik Kerawanan Wilayah
Berdasarkan laporan lapangan, hujan deras mulai mengguyur kawasan hulu sejak dini hari dan memicu setidaknya tiga kejadian bencana di tiga kecamatan berbeda. BPBD Banyuwangi mencatat indikator kerawanan sebagai berikut:
- Kecamatan Licin: luapan air di Dusun Simacan menyebabkan longsornya struktur penyangga jalan paving di tepi tebing sepanjang kurang lebih 25 meter.
- Kecamatan Songgon: peningkatan debit Sungai Badeng mengakibatkan sebuah bangunan kandang kambing hanyut terbawa arus.
- Kecamatan Singojuruh: debit Sungai Alasmalang sempat meningkat hingga mendekati bagian bawah jembatan dan meluap ke permukiman warga sekitar pukul 04.00 WIB.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa ancaman hidrometeorologi masih nyata di Kabupaten Banyuwangi, meskipun secara musim wilayah tersebut belum memasuki puncak hujan. Hujan lokal dengan intensitas tinggi tetap berpotensi memicu banjir, luapan sungai, dan tanah longsor di kawasan rawan, terutama pada daerah hulu dan sepanjang aliran sungai. Kondisi ini menuntut perangkat daerah untuk memperkuat sistem peringatan dini serta memastikan kesiapsiagaan di tingkat desa dan kecamatan.
Respons Cepat dan Catatan Strategis untuk Pemerintah Daerah
Menindaklanjuti kejadian tersebut, BPBD Banyuwangi telah menerjunkan tim untuk melakukan asesmen langsung di lokasi terdampak dan berkoordinasi dengan perangkat daerah terkait. Langkah ini diambil untuk memverifikasi dampak bencana sekaligus mengantisipasi potensi perluasan ancaman yang lebih luas. BPBD juga terus memantau perkembangan debit sungai dan kondisi cuaca sebagai bagian dari upaya kesiapsiagaan menghadapi hujan ekstrem susulan.
Pemerintah Kabupaten Banyuwangi perlu menjadikan kejadian ini sebagai dasar untuk memetakan kembali titik-titik rawan bencana hidrometeorologi, khususnya di kawasan hulu dan sempadan sungai. Koordinasi lintas perangkat daerah, termasuk dinas pekerjaan umum, BPBD, dan pemerintah kecamatan, harus diperkuat agar respons terhadap potensi bencana dapat dilakukan secara cepat dan tepat. Sosialisasi kepada masyarakat di sekitar aliran sungai dan tebing perlu ditingkatkan guna mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian harta benda.
Dengan pemetaan yang mutakhir dan koordinasi yang konsisten, kesiapsiagaan menghadapi ancaman hidrometeorologi di Banyuwangi dapat dipertahankan pada tingkat yang optimal. Pemerintah daerah diharapkan segera menindaklanjuti temuan lapangan ini dengan kebijakan mitigasi yang terukur, termasuk penguatan infrastruktur pengendali banjir dan normalisasi sungai di wilayah hulu.