Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi Manado melaporkan bahwa seluruh wilayah administrasi di Provinsi Sulawesi Utara saat ini terdampak sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari 9, BMKG mengidentifikasi bahwa partikel asap masuk ke wilayah ini akibat pergerakan angin dari arah tenggara. Kepala Stasiun Meteorologi Sam Ratulangi, Dhira Utama, menegaskan bahwa fenomena ini telah memicu penurunan jarak pandang secara signifikan dan berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan serta kesehatan masyarakat. Sebaran kabut asap telah menyelimuti 15 kabupaten dan kota di Sulawesi Utara, termasuk ibu kota provinsi dan daerah kepulauan.
Pemetaan Wilayah Terdampak Kabut Asap di Sulawesi Utara
Berdasarkan data BMKG, sebaran kabut asap akibat karhutla telah menjangkau seluruh wilayah administratif di Sulawesi Utara. Pemantauan menunjukkan bahwa konsentrasi asap cenderung meningkat pada pagi dan sore hari, sehingga mengurangi jarak pandang hingga di bawah 2 kilometer di sejumlah titik. Berikut adalah rincian wilayah yang terdampak:
- Kota Manado, Kota Bitung, Kota Tomohon, dan Kota Kotamobagu.
- Kabupaten Minahasa, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, dan Minahasa Tenggara.
- Kabupaten Bolaang Mongondow, Bolaang Mongondow Utara, Bolaang Mongondow Selatan, dan Bolaang Mongondow Timur.
- Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, dan Kepulauan Siau Tagulandang Biaro (Sitaro).
Pergerakan angin dari arah tenggara menjadi faktor utama yang membawa partikel asap dari lokasi karhutla di luar wilayah Sulawesi Utara. Pemerintah daerah diharapkan segera melakukan pemetaan titik rawan dan menyiagakan personel untuk memantau perkembangan situasi secara langsung. BMKG juga mendorong peningkatan koordinasi lintas sektor guna mengantisipasi perluasan dampak kabut asap.
Rekomendasi Mitigasi dan Imbauan Kewaspadaan
BMKG telah mengeluarkan imbauan kewaspadaan sebaran asap yang berlaku hingga 16 Oktober 2026. Imbauan ini ditujukan kepada masyarakat, pemerintah kabupaten/kota, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, serta pemangku kepentingan di sektor penerbangan. Langkah mitigasi yang direkomendasikan meliputi:
- Mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita gangguan pernapasan.
- Menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah untuk mengurangi risiko paparan partikel asap.
- Menutup jendela dan ventilasi rumah saat asap terlihat pekat untuk mencegah masuknya polutan ke dalam ruangan.
- Meningkatkan koordinasi antarinstansi terkait, termasuk dinas kesehatan, BPBD, dan otoritas bandara, guna meminimalisasi gangguan operasional dan dampak kesehatan.
Instansi BMKG juga mendorong pemerintah daerah untuk mengaktifkan posko darurat karhutla dan menyediakan masker gratis di tempat-tempat umum. Sektor penerbangan diminta untuk meningkatkan frekuensi pemantauan jarak pandang dan menyiapkan prosedur penundaan atau pengalihan rute jika diperlukan.
Catatan strategis untuk pemerintah daerah: kondisi kabut asap di Sulawesi Utara memerlukan respons cepat dan terpadu. Pemerintah provinsi dan kabupaten/kota perlu mengoptimalkan patroli pencegahan karhutla, memperkuat sistem peringatan dini, serta memastikan ketersediaan sumber daya penanggulangan bencana. Selain itu, edukasi publik tentang bahaya kabut asap dan langkah perlindungan diri harus digencarkan, terutama di wilayah dengan konsentrasi asap tertinggi. Sinergi antara BMKG, BPBD, dan dinas kesehatan menjadi kunci dalam meminimalkan dampak jangka panjang terhadap kesehatan masyarakat dan stabilitas operasional daerah.