Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Jawa Barat, melakukan survei lapangan untuk memverifikasi dampak gempa bumi dangkal yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Oktober 2026. Gempa pertama terjadi pada pukul 17.49.43 WIB dengan magnitudo M3,5 pada kedalaman 9 km, disusul gempa kedua pukul 17.58.23 WIB dengan magnitudo M4,1 pada kedalaman 5 km. Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, menyatakan bahwa kedua gempa tersebut tergolong gempa dangkal yang diduga dipicu oleh aktivitas sesar aktif di wilayah Bogor. Kejadian ini menimbulkan kerusakan pada ratusan rumah dan fasilitas ibadah, serta menambah catatan bencana gempa di Kabupaten Bogor.
Dampak Gempa Bumi terhadap Infrastruktur dan Warga di Wilayah Kabupaten Bogor
Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Bogor, tercatat 253 unit rumah dan 5 fasilitas ibadah mengalami kerusakan akibat guncangan gempa. Rincian kerusakan tersebut tersebar di tiga desa pada dua kecamatan, yaitu:
- Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang: kerusakan ringan pada sejumlah rumah (belum dirinci), namun secara total di tiga desa terdapat 222 rumah rusak ringan, 25 rumah rusak sedang, dan 6 rumah rusak berat.
- Desa Cibunian, Kecamatan Pamijahan: bagian dari total kerusakan yang tercatat, dengan detail masih diverifikasi.
- Desa Purwabakti, Kecamatan Pamijahan: sebanyak 97 rumah rusak ringan, 6 rumah rusak sedang, dan 3 rumah rusak berat, serta 3 fasilitas ibadah mengalami kerusakan ringan.
Selain kerusakan infrastruktur, satu orang warga dilaporkan mengalami luka ringan dan telah mendapatkan penanganan medis dari tim kesehatan setempat. Guncangan gempa dirasakan dengan tingkat intensitas yang bervariasi berdasarkan skala Modified Mercalli Intensity (MMI): intensitas IV MMI di Pamijahan dan Kabandungan, intensitas III MMI di Kalapanunggal, Leuwiliang, Cipeuteuy, Lengkong, dan Parakansalak, serta intensitas II MMI di Palabuhanratu, Pabuaran, dan Cicantayan. Hingga saat ini, BMKG mencatat sedikitnya 11 kali gempa susulan dengan magnitudo antara M1,6 hingga M2,6 yang terus dipantau secara real-time.
Rekomendasi Strategis bagi Pemerintah Daerah dalam Mitigasi Bencana
Menyikapi tingginya kerusakan rumah dan fasilitas umum akibat gempa dangkal di Bogor, Pemerintah Kabupaten Bogor bersama instansi terkait diimbau untuk meningkatkan kapasitas mitigasi bencana di wilayah rawan gempa. Beberapa langkah strategis yang direkomendasikan meliputi: percepatan verifikasi dan rehabilitasi rumah rusak berat dan sedang, penguatan sistem peringatan dini gempa berbasis masyarakat, serta sosialisasi tata bangunan tahan gempa di kawasan permukiman padat, khususnya di Kecamatan Leuwiliang dan Pamijahan. Selain itu, koordinasi antara BMKG, BPBD, dan Basarnas perlu diperkuat untuk memastikan respons cepat terhadap gempa susulan dan potensi bencana sekunder seperti longsor di area perbukitan. Langkah ini penting untuk meminimalkan korban jiwa dan kerugian materiil dalam menghadapi ancaman bencana gempa di masa mendatang.