Banjir bandang menerjang kawasan Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, sejak Kamis malam (15 Juni 2023) akibat hujan deras yang berlangsung selama 12 jam tanpa henti. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat mencatat bahwa lima kabupaten terdampak langsung oleh bencana ini, yaitu Kabupaten Pesisir Selatan sebagai pusat terdampak, serta Solok, Sijunjung, Padang Pariaman, dan Agam. Ketinggian air mencapai 1,5 meter di sejumlah titik permukiman, menyebabkan lebih dari 27.000 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih aman. Hingga saat ini, laporan sementara menyebutkan 4 orang meninggal dunia dan 3 orang dinyatakan hilang. Tim gabungan dari Basarnas dan TNI AU terus melakukan pencarian korban hilang di aliran Sungai Batang Tarusan.
Pemetaan Wilayah Terdampak dan Indikator Kerawanan
Bencana banjir bandang yang melanda kawasan Pesisir Selatan ini memberikan dampak luas terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat. Berdasarkan data yang dihimpun dari BPBD setempat, berikut rincian wilayah terdampak dan kerugian yang terjadi:
- Lima kabupaten terdampak: Pesisir Selatan (pusat bencana), Solok, Sijunjung, Padang Pariaman, dan Agam.
- Jumlah pengungsi mencapai 27.000 jiwa yang tersebar di berbagai titik evakuasi, seperti gedung sekolah, balai desa, dan tenda darurat.
- Korban jiwa: 4 orang meninggal dunia akibat terseret arus atau tertimbun longsor; 3 orang masih dalam pencarian oleh tim SAR.
- Kerusakan infrastruktur: Jalan Lintas Sumatera di Nagari Painan putus sepanjang 20 meter, serta jembatan desa di beberapa lokasi ambruk.
- Ratusan rumah warga terendam air setinggi 1,5 meter, dan lahan pertanian seluas puluhan hektar rusak.
Kondisi ini memperlihatkan tingkat kerawanan tinggi di wilayah pesisir dan lereng bukit, terutama saat intensitas hujan ekstrem terjadi. Pemerintah daerah setempat diminta segera melakukan pemetaan ulang zona rawan bencana untuk mengurangi risiko di masa mendatang.
Mobilisasi Penanganan Darurat dan Status Bencana
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan melalui Bupati Rusma Yul Anwar telah menetapkan status darurat bencana selama 30 hari terhitung sejak Jumat, 16 Juni 2023. Penetapan ini bertujuan mempercepat mobilisasi sumber daya dan koordinasi antarinstansi. BPBD Provinsi Sumatera Barat telah mengerahkan bantuan logistik berupa makanan, air bersih, selimut, dan perahu karet untuk evakuasi warga yang masih terisolasi. Tim SAR gabungan dari Basarnas, TNI AU, dan relawan terus melakukan pencarian intensif terhadap tiga korban hilang di aliran Sungai Batang Tarusan.
Evakuasi dilakukan dengan perahu karet dan alat berat untuk membersihkan puing-puing longsor yang menutupi akses jalan. Pemerintah Provinsi juga berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk mendapatkan dukungan tambahan helikopter dan tim medis. Masyarakat diimbau tetap waspada terhadap potensi banjir susulan akibat cuaca ekstrem.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas dan memperbaiki infrastruktur drainase serta tanggul penahan banjir di wilayah rawan. Relokasi permukiman di zona bahaya tinggi juga menjadi rekomendasi penting untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa depan. Koordinasi lintas kabupaten dan provinsi harus terus ditingkatkan untuk memastikan mitigasi dan kesiapsiagaan yang efektif.