Banjir akibat meluapnya Sungai Serayu dan curah hujan tinggi yang mengguyur sejak Selasa malam merendam 12 kecamatan di Kabupaten Cilacap, Provinsi Jawa Tengah, pada Rabu, 21 Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap mencatat lebih dari 15.000 warga terdampak dan 2.300 jiwa terpaksa mengungsi di 17 titik pengungsian. Pemerintah Kabupaten Cilacap segera menetapkan status tanggap darurat untuk mempercepat penanganan bencana dan mobilisasi sumber daya di lapangan.
Pemetaan Dampak dan Sebaran Wilayah Terdampak Banjir Cilacap
Berdasarkan laporan sementara BPBD Cilacap, genangan air yang merendam permukiman dan lahan pertanian tersebar di sejumlah titik rawan banjir di Kabupaten Cilacap. Ketinggian air bervariasi antara 30 sentimeter hingga 1,5 meter tergantung kondisi topografi dan jarak dari bantaran Sungai Serayu. Berikut rincian sebaran dampak banjir di beberapa kecamatan:
- Kecamatan Majenang: ketinggian air mencapai 1,5 meter di beberapa desa;
- Kecamatan Kesugihan: genangan air berkisar 50 sentimeter hingga 1 meter;
- Kecamatan Adipala: ketinggian air rata-rata 30 sentimeter hingga 70 sentimeter;
- Total wilayah terdampak: 12 kecamatan di Kabupaten Cilacap;
- Total pengungsi: 2.300 jiwa yang tersebar di 17 titik pengungsian.
Ketinggian air yang tidak merata ini menunjukkan tingkat kerawanan yang berbeda antarwilayah. BPBD Cilacap terus melakukan pendataan lanjutan untuk memetakan kebutuhan dasar warga, termasuk akses layanan kesehatan dan sanitasi di lokasi pengungsian. Koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) diperkuat untuk memantau potensi cuaca ekstrem yang masih berpeluang terjadi hingga akhir pekan. Pemetaan wilayah rawan banjir ini menjadi acuan penting bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan mitigasi bencana jangka panjang.
Langkah Tanggap Darurat dan Strategi Penanganan Bencana
Pemerintah Kabupaten Cilacap telah menetapkan status tanggap darurat bencana banjir selama 14 hari. Bupati Cilacap, Tatto Suwarto Pamuji, memimpin langsung rapat koordinasi darurat di posko utama yang berlokasi di Pendopo Kecamatan Majenang. Dalam rapat tersebut dibahas strategi penanganan banjir, percepatan evakuasi warga, serta pendistribusian bantuan logistik ke wilayah terdampak. Personel gabungan dari TNI, Polri, dan relawan dikerahkan untuk membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan. Logistik berupa makanan siap saji, air bersih, dan selimut telah disalurkan menggunakan perahu karet dan truk tangki air. Petugas juga menyiagakan peralatan evakuasi dan mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan pangan para pengungsi.
Sebagai catatan strategis bagi Pemerintah Kabupaten Cilacap, bencana banjir ini menegaskan perlunya penguatan infrastruktur pengendali banjir di wilayah hulu Sungai Serayu serta peningkatan kapasitas sistem peringatan dini berbasis komunitas. Pemetaan kerawanan yang akurat dan terintegrasi dengan rencana tata ruang daerah menjadi kunci dalam mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang. Koordinasi lintas sektor dan kesiapsiagaan logistik juga perlu terus diperkuat untuk mempercepat respons saat darurat.