Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan bahwa dua orang meninggal dunia akibat bencana banjir lahar di Kabupaten Lumajang, Provinsi Jawa Timur, peristiwa yang terjadi pada Senin dini hari, 2 November 2026. Berdasarkan data BNPB, sebanyak 1.567 kepala keluarga (KK) terdampak dan 13 unit rumah mengalami kerusakan akibat bencana hidrometeorologi tersebut. Empat ancaman bencana yang melanda wilayah Lumajang meliputi cuaca ekstrem, banjir bandang, banjir genangan, serta longsor. Korban jiwa tercatat di Desa Tamanayu, Kecamatan Pronojiwo, yang tertimbun longsor, menjadi pengingat akan bahaya nyata dari fase peralihan musim menuju musim hujan di kawasan dengan topografi lereng vulkanik.
Pemetaan Dampak dan Kerawanan Wilayah
Dari sisi pemetaan dampak wilayah, banjir lahar Semeru menerjang kawasan Besuk Kobokan serta sejumlah daerah aliran sungai di beberapa kecamatan. Berdasarkan data BNPB, wilayah terdampak meliputi:
- Kecamatan Pronojiwo: korban jiwa di Desa Tamanayu akibat longsor, dan wilayah aliran lahar terdampak parah.
- Kecamatan Senduro: daerah aliran sungai mengalami luapan lahar dingin.
- Kecamatan Tempursari: akses jalan di Desa Purorejo terputus, mengisolasi 117 KK. Tiga rumah warga rusak berat dan 10 rumah lainnya dalam risiko ambruk.
- Kecamatan Jatiroto, Pasirian, dan Candipuro: aliran sungai meluap, menyebabkan genangan dan kerusakan lahan permukiman.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa kerawanan teritorial di wilayah hulu dan sepanjang aliran sungai Semeru masih menjadi ancaman serius yang memerlukan perhatian lintas instansi. Data 1.567 KK terdampak dan kerusakan infrastruktur menjadi input utama bagi pemetaan kerawanan wilayah dan perumusan kebijakan tanggap darurat tingkat daerah.
Respons Tanggap Darurat dan Rekomendasi Strategis
BNPB bersama BPBD Kabupaten Lumajang, TNI, dan Polri terus melakukan evakuasi, pencarian, serta pendataan dampak korban. Prioritas utama diarahkan pada keselamatan warga di sekitar aliran lahar, sementara masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat curah hujan masih tinggi. Operasi darurat difokuskan pada pemulihan akses jalan di Tempursari dan evakuasi warga terisolasi di Desa Purorejo.
Sebagai catatan strategis untuk Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang, disarankan untuk melakukan percepatan pemetaan ulang zona rawan bencana di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) yang berhulu di Gunung Semeru. Koordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas PUPR, dan Dinas Sosial perlu diperkuat untuk menyusun rencana kontingensi jangka panjang, termasuk relokasi permukiman di titik-titik dengan tingkat kerawanan tinggi. Langkah mitigasi struktural seperti pembangunan sabo dam dan sistem peringatan dini berbasis komunitas juga mendesak diimplementasikan guna mengurangi risiko jatuhnya korban jiwa pada masa transisi musim hujan mendatang.