Banjir bandang melanda tiga kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Sabtu malam, 10 Oktober 2026. Debit air Sungai Rongkang melonjak drastis akibat hujan intensitas tinggi yang mengguyur kawasan hulu sejak sore hari. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara mencatat bahwa kecamatan yang terdampak meliputi Baebunta, Sabbang, dan Malangke, dengan ketinggian air mencapai 1,5 hingga 2 meter di permukiman warga. Peristiwa ini memicu evakuasi massal dan penetapan status tanggap darurat oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Utara.
Dampak dan Data Kerusakan Infrastruktur
Berdasarkan laporan sementara BPBD Luwu Utara, sebanyak 1.240 jiwa dari tiga kecamatan terpaksa mengungsi ke 12 titik pengungsian yang telah disiapkan. Dampak material yang tercatat meliputi:
- 86 unit rumah terendam banjir dengan kategori rusak ringan hingga sedang.
- Dua jembatan penghubung antar-desa putus, memutus akses transportasi di Kecamatan Sabbang dan Malangke.
- Satu fasilitas kesehatan di Kecamatan Sabbang terpaksa ditutup sementara akibat terendam air dan lumpur.
- Akses jalan menuju desa-desa di wilayah hulu terputus akibat material kayu dan lumpur yang menyumbat badan jalan, sebagaimana dilaporkan oleh Camat Sabbang, Andi Surya.
Kerusakan ini diperkirakan akan menghambat mobilitas warga dan distribusi bantuan dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah daerah masih melakukan pendataan lanjutan untuk mengidentifikasi kerugian sektor pertanian dan fasilitas umum lainnya.
Upaya Penanganan dan Status Tanggap Darurat
Tim SAR gabungan yang terdiri dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan langsung diterjunkan ke lokasi bencana. Evakuasi dilakukan dengan menggunakan perahu karet untuk menjangkau warga yang terjebak di rumah-rumah yang terendam. Posko utama didirikan di Kantor Desa Rampoang, Kecamatan Baebunta, sebagai pusat koordinasi dan distribusi logistik. Pemerintah Kabupaten Luwu Utara telah menetapkan status tanggap darurat selama 14 hari, terhitung sejak 11 Oktober 2026. Logistik berupa makanan siap saji, tenda pengungsian, air bersih, dan obat-obatan mulai didistribusikan melalui posko tersebut. Camat Sabbang, Andi Surya, menambahkan bahwa akses ke desa-desa hulu masih terkendala dan membutuhkan alat berat untuk membersihkan material penyumbat jalan.
Sebagai catatan strategis, bencana banjir bandang di Luwu Utara ini menegaskan perlunya penguatan sistem mitigasi bencana berbasis komunitas dan pemetaan kerawanan wilayah secara partisipatif. Pemerintah daerah disarankan untuk segera merevisi tata ruang kawasan hulu dan bantaran sungai, serta meningkatkan kapasitas early warning system berbasis komunitas di tiga kecamatan rawan. Selain itu, perbaikan infrastruktur drainase dan jembatan yang rusak perlu diprioritaskan dalam anggaran pemulihan pascabencana untuk mengurangi risiko serupa di masa mendatang.