Banjir bandang melanda Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat, pada Sabtu, 10 Oktober 2026, pukul 14.00 WIB, mengakibatkan tiga kecamatan terendam dan akses jalan terputus. Laporan awal Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pesisir Selatan menyebutkan bahwa luapan Sungai Batang Kuranji dan Sungai Batang Bayang menjadi penyebab utama bencana ini, dengan debit air mencapai tiga meter di permukiman warga. Peristiwa ini menambah daftar panjang bencana hidrometeorologi yang terjadi di wilayah rawan tersebut, menuntut respons cepat dari pemerintah daerah dan instansi terkait.
Kronologi dan Dampak Bencana di Tiga Kecamatan
Kepala BPBD Pesisir Selatan, Hendri Darma, menjelaskan bahwa banjir bandang dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi selama delapan jam di daerah hulu. Kondisi geografis berbukit di wilayah tersebut mempercepat konsentrasi aliran menuju dataran rendah, sehingga memperparah genangan. Berdasarkan pemetaan kerawanan wilayah, Kecamatan Bayang, Koto XI Tarusan, dan Sutera termasuk kategori rawan tinggi terhadap bencana banjir bandang dan longsor. Kejadian ini merupakan yang kedua dalam sebulan terakhir di Kabupaten Pesisir Selatan, menunjukkan perlunya penguatan sistem mitigasi bencana daerah.
- Lokasi terdampak: Kecamatan Bayang, Koto XI Tarusan, dan Sutera.
- Infrastruktur rusak: Dua jembatan putus dan akses jalan utama terendam.
- Pengungsi: Sebanyak 1.100 warga mengungsi di masjid dan gedung kantor kecamatan.
- Korban: Satu warga dilaporkan terseret arus dan masih dalam pencarian hingga Sabtu malam.
- Tim SAR: Tim gabungan dari Basarnas, Polairud, dan PMI diterjunkan menggunakan perahu karet untuk evakuasi.
Upaya Penanganan dan Rekomendasi Strategis
Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan segera berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai Sumatera V untuk melakukan normalisasi sungai dan perbaikan tanggul darurat. Dinas Kesehatan setempat telah mengirimkan tim tanggap darurat untuk mencegah penyakit pasca banjir seperti diare dan leptospirosis. Sementara itu, Dinas Sosial mendistribusikan bantuan logistik berupa sembako, selimut, dan perlengkapan dapur bagi para pengungsi. Upaya ini merupakan bagian dari respons cepat daerah terhadap bencana yang terjadi di wilayah rawan banjir bandang dan longsor.
Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini berbasis partisipasi masyarakat di daerah hulu dan hilir Sungai Batang Kuranji serta Sungai Batang Bayang. Normalisasi sungai dan rehabilitasi tanggul secara berkala harus menjadi prioritas dalam rencana tata ruang wilayah. Evaluasi peta kerawanan bencana di tiga kecamatan terdampak juga penting untuk dilakukan guna mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang. Sinergi antara BPBD, Balai Wilayah Sungai, dan dinas terkait perlu ditingkatkan agar penanganan bencana banjir bandang di Pesisir Selatan lebih efektif dan responsif.