|  Indonesia, WIB
Beranda › Regional › Banjir Bandang Terjang Luwu Utara, Tiga Desa Terisolasi
Regional

Banjir Bandang Terjang Luwu Utara, Tiga Desa Terisolasi

Banjir Bandang Terjang Luwu Utara, Tiga Desa Terisolasi

Banjir bandang menerjang Kecamatan Radda, Kabupaten Luwu Utara, mengakibatkan tiga desa terisolasi akibat akses jalan terputus oleh material lumpur dan kayu. BPBD mencatat sekitar 130 jiwa mengungsi, sementara pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari. Rekomendasi strategis mencakup pemulihan akses jalan dan penguatan sistem peringatan dini komunitas untuk mengurangi risiko bencana serupa.

Banjir bandang melanda Kecamatan Radda, Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Kamis dini hari (16/10/2026) akibat hujan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Rabu malam. Material lumpur dan kayu terbawa arus menutup badan jalan poros kabupaten sepanjang dua kilometer, mengakibatkan akses menuju tiga desa terisolasi, yakni Desa Radda, Desa Baloli, dan Desa Cendana Putih. Peristiwa ini menimbulkan kerawanan teritorial yang memerlukan penanganan cepat oleh Pemerintah Kabupaten Luwu Utara bersama instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat.

Dampak Banjir dan Data Kerawanan Wilayah

Berdasarkan laporan sementara BPBD Luwu Utara, dampak banjir di Kecamatan Radda meliputi puluhan rumah terendam dengan ketinggian air bervariasi antara 50 hingga 150 sentimeter. Sekitar 130 jiwa telah mengungsi ke balai desa dan rumah kerabat yang lebih aman. Berikut sebaran kerawanan wilayah akibat banjir di Kecamatan Radda:

  • Lokasi terdampak: Desa Radda, Desa Baloli, dan Desa Cendana Putih di Kecamatan Radda, Kabupaten Luwu Utara.
  • Ketinggian genangan: 50–150 sentimeter di permukiman warga.
  • Warga mengungsi: ±130 jiwa tersebar di balai desa dan rumah kerabat.
  • Akses jalan: terputus sepanjang 2 kilometer akibat material lumpur dan kayu.
  • Status: tanggap darurat selama 7 hari terhitung sejak 16 Oktober 2026.

Kondisi ini menjadikan tiga desa di Kecamatan Radda sebagai kantong kerawanan yang membutuhkan prioritas evakuasi dan normalisasi infrastruktur dasar. Kepala BPBD Luwu Utara, Saharuddin, menyatakan pihaknya masih melakukan pendataan dampak banjir dan mengimbau warga tidak melintasi aliran sungai yang masih berpotensi membawa arus deras.

Koordinasi Penanganan dan Rekomendasi Strategis

Pemerintah Kabupaten Luwu Utara telah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari terhitung sejak 16 Oktober 2026. Tim gabungan dari BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, TNI, Polri, dan Dinas Sosial dikerahkan untuk melakukan evakuasi warga menggunakan perahu karet. Selain itu, alat berat disiagakan untuk membersihkan material yang menutup badan jalan poros kabupaten. Posko pengungsian didirikan dengan dukungan dapur umum dari Palang Merah Indonesia (PMI) untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang mengungsi.

Peringatan dini cuaca dari BMKG masih berlaku untuk wilayah Sulawesi Selatan bagian utara hingga 18 Oktober 2026. Hal ini menjadi perhatian bagi seluruh instansi terkait untuk meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi banjir susulan. Koordinasi lintas sektor antara BPBD, Dinas Sosial, dan TNI/Polri harus terus dipertahankan agar penanganan dampak banjir di Luwu Utara berjalan efektif dan tepat sasaran.

Sebagai catatan strategis, pemerintah daerah perlu memprioritaskan pemulihan akses jalan poros sebagai langkah awal normalisasi wilayah dan membuka keterisolasian tiga desa di Kecamatan Radda. Penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas juga menjadi krusial untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa mendatang. Dengan koordinasi yang solid, pemerintah Kabupaten Luwu Utara diharapkan mampu meminimalisir dampak kerawanan teritorial pascabanjir bandang di wilayah tersebut.

Entitas dalam Berita
Tokoh: Saharuddin
Organisasi: BPBD Luwu Utara, BPBD Provinsi Sulawesi Selatan, TNI, Polri, Dinas Sosial, PMI, BMKG
Lokasi: Kecamatan Radda, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan, Desa Radda, Desa Baloli, Desa Cendana Putih
Berita Terkait