Banjir bandang menerjang tiga kecamatan di Kabupaten Luwu Utara, Provinsi Sulawesi Selatan, pada Sabtu, 17 Oktober 2026. Peristiwa ini dipicu hujan deras yang mengguyur kawasan hulu Sungai Rongkong sejak sehari sebelumnya. Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Luwu Utara, Ahmad Syarif, mengonfirmasi bahwa banjir bandang telah merendam pemukiman warga di Kecamatan Masamba, Malangke, dan Bone-Bone dengan ketinggian air mencapai dua meter. Pemerintah daerah menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari untuk mempercepat koordinasi penanganan bencana dan evakuasi warga terdampak. BPBD mencatat sebanyak 1.200 jiwa mengungsi ke empat titik pengungsian yang tersebar di gedung sekolah dan kantor desa di ketiga kecamatan tersebut.
Pemetaan Kerawanan Wilayah Terdampak Banjir Bandang
Berdasarkan laporan BPBD Luwu Utara, dampak bencana bervariasi di setiap kecamatan. Pemetaan kerawanan yang dilakukan menunjukkan indikator berbeda-beda, mulai dari kerusakan infrastruktur hingga lokasi pengungsian. Berikut rincian wilayah terdampak dan indikator kerawanan yang teridentifikasi:
- Kecamatan Masamba menjadi wilayah dengan dampak terparah. Jembatan penghubung antar desa putus akibat terjangan air, menghambat akses evakuasi dan distribusi bantuan.
- Kecamatan Malangke mengalami rendaman pemukiman penduduk setinggi hingga dua meter. Sebagian warga mengungsi ke gedung sekolah yang ditetapkan sebagai lokasi pengungsian sementara.
- Kecamatan Bone-Bone memfungsikan kantor desa setempat sebagai posko pengungsian dan distribusi logistik bagi warga yang kehilangan tempat tinggal.
Pemetaan ini menjadi acuan bagi BPBD dan instansi terkait dalam memprioritaskan penanganan di lokasi-lokasi kritis. Data kerusakan infrastruktur dan jumlah pengungsi terus diperbarui untuk memastikan respons yang tepat sasaran.
Evakuasi dan Penanganan Darurat di Lapangan
Personel TNI, Polri, dan Basarnas dikerahkan untuk mengevakuasi warga yang terjebak di atap rumah akibat datangnya banjir bandang yang cepat. Kendala utama di lapangan adalah putusnya jembatan penghubung di Kecamatan Masamba, sehingga tim evakuasi menggunakan perahu karet dan jalur alternatif untuk menjangkau lokasi terdampak. BPBD Luwu Utara berkoordinasi dengan dinas sosial dan instansi terkait untuk mendistribusikan bantuan logistik berupa makanan, air bersih, dan selimut ke titik-titik pengungsian. Proses pendataan jumlah pengungsi dan kerusakan infrastruktur masih terus dilakukan untuk memastikan penanganan yang tepat sasaran.
Peristiwa banjir bandang yang melanda Kabupaten Luwu Utara ini kembali menegaskan pentingnya pemetaan kerawanan wilayah yang komprehensif, terutama di daerah aliran sungai dan kawasan hulu. Pemerintah daerah perlu memperkuat sistem peringatan dini bencana hidrometeorologi serta membangun infrastruktur yang tahan bencana, seperti jembatan dengan struktur lebih kokoh dan drainase yang memadai. Selain itu, peningkatan kapasitas sumber daya manusia di BPBD dan penguatan koordinasi lintas sektor, termasuk TNI, Polri, dan Basarnas, menjadi langkah strategis untuk meminimalkan risiko korban jiwa dan kerugian materiil pada masa mendatang. Sinergi antara pemerintah daerah, pusat, dan masyarakat sangat dibutuhkan dalam membangun ketangguhan warga terhadap ancaman bencana serupa.