Pemerintah Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari terhitung sejak Selasa, 6 Oktober 2026, menyusul bencana banjir bandang yang melanda delapan nagari di wilayah tersebut. Berdasarkan laporan resmi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam, hujan deras dengan intensitas tinggi selama lima jam tanpa henti menyebabkan debit air mencapai ketinggian dua meter di sejumlah titik. Akibatnya, sebanyak 2.500 jiwa terpaksa mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, sementara material kayu dan batu menutup akses Jalan Lintas Sumatera yang menghubungkan Bukittinggi dan Lubuk Basung, memutus jalur transportasi utama di wilayah tersebut. Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Agam, Irwan Fikri, secara langsung menginstruksikan percepatan penanganan dampak bencana dengan mengerahkan personel gabungan dari TNI, Polri, dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP).
Kerusakan Infrastruktur dan Wilayah Terdampak
Berdasarkan data sementara dari BPBD Kabupaten Agam, bencana banjir bandang ini mengakibatkan kerusakan infrastruktur yang signifikan. Tiga jembatan di ruas jalan utama dinyatakan putus, sementara puluhan unit rumah warga mengalami kerusakan mulai dari kategori berat hingga ringan. Akses Jalan Lintas Sumatera ruas Bukittinggi–Lubuk Basung masih terputus total akibat tertutup material kayu dan batu, menghambat distribusi logistik dan mobilitas warga. Delapan nagari yang terdampak meliputi:
- Nagari Canduang
- Nagari Sungai Pua
- Nagari Tanjung Mutiara
- Nagari Koto Tangah
- Nagari Biaro
- Nagari Lawang
- Nagari Kamang
- Nagari Lambah
Personel gabungan dari Kodim 0304/Agam dan Polres Agam terus melakukan evakuasi warga serta pembersihan akses jalan dengan menggunakan perahu karet dan alat berat. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah mengirimkan bantuan logistik berupa makanan, selimut, dan perlengkapan darurat, serta tim medis untuk melayani warga yang membutuhkan perawatan di lokasi pengungsian.
Upaya Penanganan Pengungsi dan Sistem Peringatan Dini
Dinas Sosial Kabupaten Agam telah mendirikan dapur umum di tiga lokasi pengungsian utama, yaitu di Nagari Canduang, Nagari Sungai Pua, dan Nagari Tanjung Mutiara. Dapur umum tersebut berfungsi menyediakan makanan siap saji bagi 2.500 jiwa pengungsi. Hingga saat ini, belum ada laporan korban jiwa, namun BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir bandang susulan dan tanah longsor di daerah perbukitan sekitar. Berdasarkan analisis awal, faktor penyebab utama bencana ini adalah kombinasi antara hujan ekstrem selama lima jam dan kondisi topografi Kabupaten Agam yang berada di lereng Gunung Marapi serta aliran sungai yang sempit.
Pemerintah daerah perlu segera melakukan pemetaan kerawanan wilayah secara komprehensif, terutama di delapan nagari yang terdampak, serta memperkuat sistem peringatan dini berbasis komunitas. Rekomendasi strategis yang mendesak adalah integrasi data kerawanan bencana ke dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) Kabupaten Agam, guna memitigasi risiko bencana serupa di masa mendatang. Langkah ini juga mencakup koordinasi lintas sektor untuk percepatan rehabilitasi infrastruktur dan pemulihan ekonomi masyarakat terdampak, khususnya di sepanjang koridor Jalan Lintas Sumatera yang menjadi urat nadi transportasi regional.