Bencana banjir bandang melanda Kabupaten Agam, Provinsi Sumatera Barat, pada Selasa, 6 Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Agam melaporkan dua warga meninggal dunia akibat terjangan air bah dan material longsor. Peristiwa ini dipicu oleh curah hujan dengan intensitas tinggi dan durasi panjang yang menyebabkan luapan Sungai Batang Agam serta anak sungainya, sekaligus memicu longsor di wilayah perbukitan. Tim gabungan yang terdiri atas BPBD, TNI, Polri, Basarnas, dan relawan segera dikerahkan untuk evakuasi dan penanganan darurat di sejumlah nagari terdampak.
Berdasarkan laporan lapangan, banjir bandang terjadi sekitar pukul 14.00 WIB setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut sejak pagi. Air bah merendam ratusan rumah dan merusak infrastruktur vital. Hingga saat ini, BPBD mencatat 264 unit rumah terdampak, dua korban jiwa, dan tiga jembatan rusak. Ketinggian air bervariasi antara 50 sentimeter hingga dua meter di titik-titik terendah.
Dampak Wilayah dan Data Kerusakan
BPBD Kabupaten Agam merinci sebaran dampak banjir bandang berdasarkan nagari yang terdampak. Data sementara menunjukkan kerusakan yang cukup signifikan pada permukiman dan akses jalan.
- Nagari Canduang: 112 unit rumah terendam dan satu korban jiwa.
- Nagari Baso: 87 unit rumah terendam, satu korban jiwa, dan akses jalan putus total.
- Nagari Ampek Angkek: 65 unit rumah terendam serta longsor di lima titik.
Selain permukiman, fasilitas umum seperti sekolah dan puskesmas juga terdampak. Akses jalan utama penghubung antarkecamatan terputus akibat material tanah dan batu yang longsor, sehingga menghambat evakuasi dan distribusi bantuan logistik. Posko darurat didirikan di Kantor Camat Baso untuk melayani 1.200 jiwa pengungsi yang tersebar di empat titik pengungsian. BPBD setempat terus memetakan titik-titik rawan longsor susulan dan banjir bandang di wilayah hulu serta sepanjang aliran sungai.
Analisis Kerentanan dan Rekomendasi Strategis
Kejadian banjir bandang di Kabupaten Agam menegaskan tingginya kerentanan wilayah topografi bergunung di kawasan Bukit Barisan. Kemiringan lereng yang curam dan jenis tanah yang mudah jenuh air saat hujan deras menjadi faktor utama. Selain itu, kurangnya vegetasi penutup di daerah hulu serta alih fungsi lahan turut memperparah risiko bencana hidrometeorologi ekstrem.
Untuk itu, pemerintah daerah Kabupaten Agam bersama BPBD dan dinas terkait perlu menyusun peta risiko bencana yang lebih detail dan mengintegrasikannya ke dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Simulasi evakuasi secara rutin bagi masyarakat di nagari-nagari rawan juga perlu digalakkan, disertai penguatan sistem peringatan dini berbasis komunitas.
Rehabilitasi hutan dan lahan kritis di wilayah hulu sungai menjadi prioritas guna mengurangi risiko banjir bandang dan longsor di masa mendatang. Langkah-langkah strategis tersebut diharapkan mampu menekan potensi korban jiwa dan kerugian infrastruktur pada kejadian serupa di kemudian hari.