Banjir lahar hujan yang dipicu oleh hujan deras dengan intensitas tinggi di puncak Gunung Semeru menerjang tiga kecamatan di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, pada Senin (2/11/2026) pagi. Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang langsung melakukan asesmen awal di lokasi terdampak, yang meliputi Kecamatan Tempursari, Kecamatan Pasirian, dan Kecamatan Jatiroto. Material vulkanik bercampur air bah mengalir deras melalui sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS), antara lain Sungai Besuk Kobokan, Kali Lanang, Besuk Sat, dan Sungai Glidik.
Asesmen Awal TRC BPBD Lumajang: Ratusan Jiwa Terdampak
Berdasarkan asesmen awal TRC BPBD Lumajang, sedikitnya 500 jiwa di Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto, terdampak genangan banjir lahar. Selain itu, laporan dari lapangan menunjukkan adanya kerusakan infrastruktur berupa tiga rumah dengan bagian teras yang ambruk, serta sepuluh rumah lainnya terancam rusak akibat terkikisnya tanah penyangga. Kondisi ini diperparah dengan jebolnya tanggul Sungai Glidik Permalu di Dusun Pasir Rejo, Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, sehingga luapan air mencapai permukiman warga dan area Alun-alun setempat.
Peristiwa ini menegaskan tingginya kerentanan wilayah kaki Gunung Semeru terhadap ancaman banjir lahar, khususnya pada musim pancaroba. BPBD Lumajang mencatat bahwa aliran lahar hujan menyusuri beberapa DAS yang berhulu di gunung tersebut. Berikut rincian dampak dan titik terdampak yang berhasil dihimpun dari laporan TRC:
- Sedikitnya 500 jiwa di Desa Rojopolo, Kecamatan Jatiroto, terdampak genangan banjir.
- Tiga rumah dilaporkan mengalami kerusakan pada bagian teras.
- Sepuluh rumah lainnya terancam rusak akibat tanah penyangga tergerus.
- Tanggul Sungai Glidik Permalu di Dusun Pasir Rejo, Desa Purorejo, Kecamatan Tempursari, jebol.
- Luapan banjir mencapai permukiman warga dan area Alun-alun di sekitar lokasi tanggul.
Gangguan Infrastruktur dan Konektivitas Malang-Lumajang
Dampak infrastruktur yang paling signifikan adalah lumpuhnya Jembatan Limpas di Sungai Glidik serta terputusnya akses jalan Purorejo-Tamansari Bawah sepanjang 100 meter. Kondisi ini menyebabkan lalu lintas penghubung antara wilayah Malang dan Lumajang terputus total. Akibatnya, ratusan warga di sejumlah dusun terisolasi dan mobilitas barang maupun orang menjadi terganggu.
Bencana geologi ini kembali menjadi pengingat bagi pemerintah daerah akan pentingnya pemetaan kerawanan di sepanjang aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru. BPBD Lumajang saat ini masih melakukan pendataan lanjutan dan koordinasi dengan perangkat daerah terkait untuk mempercepat penanganan darurat.
Pemerintah Kabupaten Lumajang bersama BPBD dan instansi terkait perlu menjadikan kejadian ini sebagai dasar untuk memperkuat langkah mitigasi bencana geologi. Normalisasi sungai, rehabilitasi tanggul, serta pemasangan sistem peringatan dini berbasis komunitas di sepanjang DAS menjadi prioritas. Selain itu, percepatan perbaikan Jembatan Limpas dan ruas jalan yang terputus harus dilakukan agar konektivitas antara Malang dan Lumajang segera pulih dan aktivitas pemerintahan serta ekonomi masyarakat dapat kembali normal.