Sebanyak 473 titik panas (hotspot) dengan kategori kepercayaan tinggi (high confidence) di atas 80 persen terpantau di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Provinsi Sumatera Selatan, pada Minggu (18/10/2026) pagi. Kepala Seksi Wilayah II Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Didik Suprijono, mengonfirmasi bahwa titik-titik api aktif tersebut menjadi sumber utama kabut asap tebal yang kembali menyelimuti Kota Palembang setelah sebelumnya sempat membaik. Akumulasi data periode 1–16 Oktober 2026 mencatat total 33.425 titik panas di Sumatera Selatan, dengan Kabupaten OKI menjadi penyumbang tertinggi mencapai 20.367 titik.
Dampak Langsung terhadap Kualitas Udara dan Kesehatan Masyarakat Palembang
Kabut asap yang berasal dari kebakaran lahan di OKI secara langsung mengganggu aktivitas warga Ibu Kota Provinsi. Berdasarkan pemantauan kualitas udara pada dini hari, wilayah Gandus mencatat Indeks Kualitas Udara (AQI) sebesar 163, masuk kategori tidak sehat dengan dominasi polutan asap (smoke). Warga di sejumlah titik melaporkan keluhan sebagai berikut:
- Mata perih dan sesak napas saat berolahraga di kawasan Stadion Jakabaring Palembang, dengan jarak pandang sangat terbatas.
- Di Perumahan Albarian Gandus, jarak pandang hanya sekitar 100 meter dan bau asap menyengat masuk hingga ke dalam rumah.
- Kekhawatiran atas peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada anak-anak yang menjalani sekolah daring.
Kondisi ini terjadi meskipun sebelumnya telah dilakukan upaya modifikasi cuaca. Warga mengaku kualitas udara sempat membaik pada Sabtu (17/10), namun kembali memburuk pada pagi hari ini. Laporan lapangan menunjukkan kerentanan kesehatan masyarakat serta gangguan aktivitas ekonomi-sosial sebagai dampak langsung dari kebakaran lahan yang berpusat di Kabupaten OKI.
Rekapitulasi Data Hotspot dan Upaya Penanggulangan
Data dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera menunjukkan bahwa konsentrasi titik panas di Sumatera Selatan masih sangat tinggi. Rincian sebaran hotspot selama periode 1–16 Oktober 2026 adalah sebagai berikut:
- Total hotspot Sumatera Selatan: 33.425 titik.
- Kabupaten OKI: 20.367 titik (61% dari total).
- 473 titik terpantau pada Minggu pagi (18/10) dengan tingkat kepercayaan di atas 80%.
Meskipun pemerintah daerah dan instansi terkait telah menggelar operasi modifikasi cuaca, hasilnya belum optimal karena asap kembali tebal dalam waktu singkat. Fenomena ini menandakan perlunya pengendalian lebih ketat di titik-titik rawan kebakaran, khususnya di wilayah konsesi lahan gambut yang menjadi sumber utama karhutla di OKI.
Sebagai catatan strategis, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Kabupaten OKI perlu segera mengintensifkan patroli terpadu dan pengawasan terhadap aktivitas pembakaran lahan. Selain itu, pendekatan restorasi gambut dan pemberdayaan petani bebas bakar harus dipercepat guna menekan jumlah hotspot yang terus meningkat. Penguatan sistem peringatan dini serta penyediaan alat pemadam kebakaran di tingkat desa juga menjadi rekomendasi prioritas untuk mengurangi dampak buruk terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.