Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) merilis data terkini penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) per Selasa, 8 September 2026, yang menunjukkan kondisi kritis di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatera. Berdasarkan laporan satuan tugas darurat, konsentrasi titik api tertinggi tercatat di Provinsi Riau dengan 51 titik, sementara luas lahan terbakar terbesar mencapai hampir 400 hektare di Sumatera Selatan. Kualitas udara di beberapa kabupaten/kota di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah telah memasuki kategori berbahaya, mengancam kesehatan masyarakat dan aktivitas penerbangan. BNPB mengerahkan seluruh sumber daya darat dan udara, termasuk operasi water bombing dan teknologi modifikasi cuaca (TMC), untuk menekan penyebaran karhutla.
Kondisi Karhutla di Wilayah Kalimantan
Di Pulau Kalimantan, tiga provinsi mengalami dampak signifikan dengan total titik api mencapai 104 titik dan luasan lahan terbakar lebih dari 710 hektare. Berikut rincian berdasarkan data BNPB:
- Kalimantan Barat: Terdeteksi 36 titik api, lahan terbakar seluas 350 hektare. Kualitas udara berbahaya dengan jarak pandang di bawah 1 kilometer. Satgas Darat yang melibatkan 15.091 personel berhasil memadamkan 102 hektare, didukung operasi water bombing yang menjatuhkan 172.000 liter air.
- Kalimantan Tengah: Terdeteksi 47 titik api, lahan terbakar lebih dari 100 hektare. Kualitas udara sangat tidak sehat menjadi perhatian utama, dengan dampak langsung terhadap kesehatan masyarakat dan mobilitas.
- Kalimantan Selatan: Terdeteksi 21 titik api, lahan terbakar 260 hektare. Upaya pemadaman berhasil menjinakkan 163 hektare melalui kombinasi personel darat dan water bombing, meskipun area gambut masih menyisakan tantangan.
Penanganan Karhutla di Wilayah Sumatera dan Penerapan TMC
Di Sumatera, tiga provinsi melaporkan titik api dan luas lahan terbakar yang memerlukan intervensi cepat. BNPB mengerahkan TMC untuk mempercepat pemadaman, khususnya di daerah dengan kualitas udara ekstrem. Rincian data sebagai berikut:
- Riau: 51 titik api, lahan terbakar 309 hektare. Operasi darat dan udara terus dilakukan untuk mengendalikan penyebaran, dengan fokus pada pencegahan perluasan ke lahan gambut.
- Jambi: 29 titik api, lahan terbakar 60 hektare. Skala relatif lebih kecil namun tetap memerlukan penanganan ketat, terutama mengingat tingginya konsentrasi asap.
- Sumatera Selatan: 9 titik api dengan lahan terbakar hampir 400 hektare. Menjadi wilayah dengan luasan terbakar tertinggi di Sumatera, membutuhkan dukungan logistik dan personel tambahan.
Penerapan TMC dilaksanakan di Kalimantan Selatan dengan penyemaian 3.000 kg garam ke awan, yang berhasil memicu hujan di beberapa kabupaten. Namun, kendala cuaca seperti kelembaban rendah dan arah angin masih menghambat efektivitas operasi TMC di lokasi lain. Water bombing tetap menjadi andalan utama, terutama di area gambut yang sulit dijangkau, dengan total lebih dari 172.000 liter air telah dijatuhkan di Kalimantan Barat saja. BNPB menekankan pentingnya sinergi antara operasi udara dan upaya pemadaman darat untuk mengoptimalkan hasil.
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, peningkatan kesiapsiagaan prasarana pengendalian karhutla — termasuk pembuatan sekat bakar kanal, patroli terpadu, dan penguatan regulasi larangan pembakaran lahan — menjadi krusial. BNPB merekomendasikan percepatan operasi TMC di wilayah dengan kualitas udara berbahaya seperti Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta optimalisasi koordinasi antarinstansi untuk menekan jumlah titik api dan luas lahan terbakar secara berkelanjutan. Pemerintah daerah diharapkan segera menyusun rencana kontingensi yang terintegrasi dengan strategi nasional guna meminimalkan dampak karhutla terhadap lingkungan dan masyarakat.