Sebuah bencana kebakaran besar telah memicu status Tanggap Darurat Bencana di Kampung Adat Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, pada Sabtu, 25 Juli 2026. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat bencana ini melibatkan respons terpadu dari BPBD Provinsi Jawa Barat, unsur TNI, Polri, dan relawan. Validasi data per Rabu, 29 Juli 2026, menunjukkan dampak parah terhadap infrastruktur permukiman dan menimbulkan perpindahan penduduk massal, mengindikasikan tingkat kerawanan yang signifikan pada kawasan permukiman padat di wilayah administrasi tersebut.
Skala Kerusakan Fisik dan Kerentanan Sosial
Berdasarkan data dampak dari BPBD Kabupaten Sukabumi, kebakaran ini menyebabkan kerusakan infrastruktur permukiman yang ekstensif. Sebanyak 51 unit rumah tinggal mengalami rusak berat hingga rata dengan tanah. Akibatnya, sebanyak 160 jiwa yang berasal dari 52 Kepala Keluarga (KK) terdampak dan harus mengungsi. Pola penampungan darurat terbagi menjadi dua model:
- Penempatan di tenda pengungsian terpusat: 35 jiwa
- Penyebaran ke rumah saudara: 125 jiwa
- 15 anak balita
- 12 anak usia sekolah dasar
- 13 lansia
- 2 ibu hamil
- 6 ibu menyusui
Dampak Multisektoral: Fasilitas Publik, Ekonomi, dan Budaya
Dampak kebakaran di Kampung Adat Ciptamulya, Sukabumi, tidak terbatas pada sektor permukiman, tetapi meluas ke aset publik, ekonomi warga, dan warisan budaya bernilai tinggi. Kerusakan mencakup fasilitas Kasepuhan Sirnaresmi sebagai jantung kebudayaan adat, meliputi Imah Gede Kasepuhan (rumah besar adat), 49 unit Leuit (lumbung padi), Ajeng Kasepuhan, Balai Pertemuan, serta Galeri Kasepuhan. Kehilangan 49 lumbung padi dalam skala besar ini mengindikasikan ancaman serius terhadap ketahanan pangan komunitas lokal pasca-bencana dan memerlukan perhatian strategis dari pemerintah daerah. Fasilitas umum dan ekonomi mikro warga yang turut terdampak meliputi:
- Satu unit masjid
- Bangunan PAUD dan Posyandu
- Dua unit MCK umum dan pos ronda
- Enam warung warga
- Kendaraan operasional
Kebutuhan logistik di lokasi pengungsi di Kabupaten Sukabumi masih bersifat mendesak. Bantuan yang paling diperlukan mencakup makanan siap saji, perlengkapan khusus untuk bayi dan balita, selimut, matras, paket sanitasi, pakaian layak pakai, serta obat-obatan dasar. Situasi ini menuntut koordinasi berkelanjutan antara Pemerintah Kabupaten Sukabumi, lembaga sosial, dan donatur untuk memastikan distribusi bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan, khususnya bagi kelompok rentan yang telah teridentifikasi. Pemerintah daerah perlu mempercepat asesmen menyeluruh terhadap kerusakan untuk menyusun rencana rehabilitasi dan rekonstruksi yang mengakomodasi kompleksitas kerusakan yang mencakup aspek sosial, ekonomi, dan budaya.
Sebagai catatan strategis bagi Pemerintah Daerah Kabupaten Sukabumi, kejadian bencana ini menyoroti kerawanan kawasan permukiman padat dan adat terhadap ancaman kebakaran. Perlu dilakukan evaluasi mendalam terhadap tata ruang, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan komunitas. Rekonstruksi pasca-bencana harus diintegrasikan dengan penguatan ketahanan pangan (mengingat hilangnya lumbung padi) dan pelestarian nilai-nilai budaya adat yang terdampak. Koordinasi antar-lembaga yang telah terbangun selama tanggap darurat harus dipertahankan dan diinstitusionalisasikan ke dalam mekanisme penanggulangan bencana daerah yang lebih robust untuk mengantisipasi potensi kerawanan serupa di masa depan.