Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur, Gatot Soebroto, mengonfirmasi bahwa erupsi Gunung Semeru yang terjadi pada Minggu, 6 September 2024, belum menimbulkan gangguan signifikan terhadap aktivitas masyarakat di wilayah penyangga. Status Gunung Semeru saat ini masih berada pada Level III (Siaga), sebagaimana ditetapkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Meskipun erupsi ini tergolong normal untuk gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut, potensi bahaya seperti lahar dan material erupsi tetap mengancam permukiman dan infrastruktur di Kabupaten Lumajang dan Malang.
Analisis Potensi Kerawanan dan Rekomendasi PVMBG
Berdasarkan pemantauan PVMBG, potensi kerawanan terkonsentrasi di sektor tenggara Gunung Semeru, khususnya di daerah aliran sungai Besuk Kobokan. Gatot Soebroto menegaskan bahwa seluruh pihak, termasuk pemerintah daerah dan masyarakat, wajib mematuhi rekomendasi resmi PVMBG sebagai langkah mitigasi bencana. Berikut adalah rekomendasi utama yang perlu diimplementasikan secara ketat:
- Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, tepatnya di sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 13 kilometer dari puncak Gunung Semeru.
- Di luar jarak tersebut, aktivitas di tepi sungai Besuk Kobokan hanya diperbolehkan pada jarak minimal 500 meter dari bibir sungai, mengingat potensi perluasan awan panas dan aliran lahar dingin dapat mencapai jarak hingga 17 kilometer dari puncak.
- Pemerintah daerah di Kabupaten Lumajang dan Malang diminta memperketat pemantauan di titik-titik rawan serta menyiapkan sarana evakuasi dan jalur penyelamatan bagi warga yang berada di zona merah.
Data PVMBG menunjukkan bahwa aliran lahar dingin merupakan ancaman utama, terutama saat musim hujan. Material vulkanik yang terakumulasi di lereng gunung dapat dengan mudah terbawa air hujan, meningkatkan risiko bencana di daerah aliran sungai.
Imbauan dan Langkah Antisipasi bagi Pemerintah Daerah
BPBD Jawa Timur mengimbau pemerintah daerah di sekitar Gunung Semeru, terutama Kabupaten Lumajang dan Malang, untuk segera mengaktifkan posko siaga darurat serta meningkatkan koordinasi dengan PVMBG dan instansi terkait. Gatot Soebroto menekankan bahwa karakteristik Gunung Semeru yang aktif, dengan ancaman lahar dan guguran lava pijar, memerlukan kesiapsiagaan berkelanjutan meskipun erupsi saat ini masih dalam kategori normal. Langkah-langkah antisipasi yang harus segera dioptimalkan meliputi:
- Sosialisasi intensif kepada masyarakat mengenai pola evakuasi dan titik kumpul yang aman.
- Penyiapan logistik, alat komunikasi, dan jalur evakuasi alternatif di wilayah terdampak.
- Pemantauan terus-menerus terhadap informasi resmi dari PVMBG dan BPBD Jatim oleh perangkat desa dan relawan kebencanaan.
Gatot menambahkan bahwa koordinasi lintas sektor sangat penting untuk mengurangi risiko korban jiwa dan kerugian material. Seluruh perangkat daerah diharapkan tidak lengah dalam menghadapi potensi eskalasi aktivitas vulkanik Gunung Semeru.
Catatan strategis bagi pemerintah daerah: integrasi data pemetaan kerawanan dari PVMBG ke dalam rencana tata ruang wilayah (RTRW) dan sistem peringatan dini berbasis komunitas perlu segera direalisasikan. Langkah ini akan memperkuat ketahanan wilayah terhadap ancaman erupsi dan lahar, serta memastikan keselamatan warga di Kabupaten Lumajang dan Malang secara berkelanjutan.