Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru melaporkan bahwa sebanyak 1.979 titik panas akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) terdeteksi di Pulau Sumatera pada Jumat, 18 September 2026. Provinsi Sumatera Selatan menjadi penyumbang terbesar dengan 1.559 titik panas, sementara Provinsi Riau mencatat 90 titik panas yang tersebar di sejumlah kabupaten dan kota. Kondisi ini memicu kekhawatiran meluasnya dampak Karhutla terhadap kualitas udara di wilayah tersebut.
Sebaran Titik Panas dan Wilayah Terdampak di Riau
Berdasarkan data BMKG Stasiun Pekanbaru, persebaran titik panas di Provinsi Riau menunjukkan konsentrasi tertinggi di Kabupaten Indragiri Hulu dengan 47 titik, disusul Kabupaten Indragiri Hilir sebanyak 36 titik. Wilayah lainnya yang turut terdeteksi meliputi:
- Kabupaten Kampar: 3 titik panas
- Kabupaten Kuantan Singingi: 2 titik panas
- Kota Pekanbaru: 1 titik panas
- Kabupaten Kepulauan Meranti: 1 titik panas
Pemetaan ini mengindikasikan bahwa kawasan pesisir timur dan tengah Riau memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap Karhutla. Pemerintah daerah setempat perlu segera mengidentifikasi lokasi rawan untuk memprioritaskan langkah pencegahan dan pemadaman dini.
Dampak Terhadap Kualitas Udara dan Jarak Pandang
Maraknya titik panas telah berdampak langsung pada kualitas udara dan jarak pandang (visibility) di beberapa wilayah Riau. Pada pukul 16.00 WIB, jarak pandang di Kota Pekanbaru dan Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, tercatat hanya mencapai 4 kilometer akibat kabut asap. Keterbatasan visibilitas ini berpotensi mengganggu aktivitas penerbangan, transportasi darat, dan kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti lansia dan penderita gangguan pernapasan.
Kondisi kualitas udara yang memburuk menuntut respons cepat dari pemerintah daerah dan instansi terkait. Pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) perlu diperketat, dan imbauan penggunaan masker serta pembatasan aktivitas luar ruangan harus disosialisasikan secara masif. Langkah mitigasi seperti pembuatan kanal blokir dan patroli udara juga dapat dioptimalkan untuk menekan meluasnya Karhutla.
Catatan Strategis untuk Pemerintah Daerah: Sebagai upaya pengendalian Karhutla di Riau, perlu diperkuat koordinasi lintas sektor antara BPBD, Manggala Agni, dan TNI/Polri. Prioritas penanganan harus difokuskan pada kabupaten dengan konsentrasi titik panas tinggi, seperti Indragiri Hulu dan Indragiri Hilir. Selain itu, pengelolaan lahan gambut berbasis masyarakat perlu didorong untuk mencegah kebakaran berulang. Kewaspadaan dini terhadap potensi penyebaran asap ke wilayah permukiman dan perkotaan menjadi kunci menjaga keselamatan dan kesehatan publik.