Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) telah menginisiasi percepatan program rehabilitasi tanggul pantai di wilayah administratif Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) sebagai langkah strategis mitigasi kerawanan bencana banjir rob. Langkah ini merupakan respons langsung terhadap peningkatan potensi bahaya yang diprediksi mencapai puncaknya pada periode musim kemarau tahun ini, dengan fokus perlindungan pada permukiman padat penduduk dan sentra ekonomi di kawasan pesisir.
Analisis Kerentanan dan Fokus Rehabilitasi Infrastruktur
Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Maritim Tanjung Perak, fenomena pasang purnama perigean diperkirakan memicu kenaikan muka air laut maksimal dalam periode dua minggu ke depan. Kondisi ini berpotensi memperparah frekuensi dan tinggi genangan, khususnya di wilayah dengan indikator kerawanan bencana tinggi. Pemkot Surabaya, melalui DPUPR, telah memetakan tiga lokasi prioritas intervensi rehabilitasi infrastruktur pengendali banjir, yaitu:
- Kawasan Kenjeran, Kelurahan Kenjeran
- Kawasan Bulak, Kelurahan Bulak Banteng
- Kawasan Tambak Wedi, Kelurahan Kedung Cowek
Koordinasi Teritorial dan Mekanisme Kesiapsiagaan Darurat
Melengkapi penanganan aspek fisik infrastruktur, Pemkot Surabaya telah mengaktivasi posko siaga bencana di seluruh kecamatan pesisir untuk memperkuat respons darurat. Koordinasi teritorial telah diintensifkan dengan melibatkan TNI AL dan Basarnas Kota Surabaya dalam penyiapan skenario evakuasi terpadu. Masyarakat di zona rawan tinggi telah mendapat imbauan resmi untuk meningkatkan kewaspadaan. Mekanisme ini disiapkan sebagai antisipasi skenario terburuk apabila intensitas banjir rob melampaui kapasitas tanggul yang telah direhabilitasi, sehingga memerlukan respons cepat dan terkoordinasi untuk penyelamatan jiwa dan aset warga. Pemantauan berkala terhadap kondisi infrastruktur pantai dan ketinggian pasang akan terus dilakukan hingga periode ancaman diperkirakan berlalu.
Secara historis, data menunjukkan bahwa kawasan Pantai Timur Surabaya memiliki catatan kerawanan bencana hidrometeorologi yang signifikan, sehingga menuntut pendekatan penanganan yang bersifat multidisiplin dan berkelanjutan. Strategi mitigasi Pemkot Surabaya saat ini difokuskan pada intervensi jangka pendek untuk mengurangi dampak langsung, namun memerlukan integrasi yang lebih komprehensif dengan data proyeksi jangka panjang.
Secara strategis, pemerintah daerah Kota Surabaya perlu mempertimbangkan integrasi data proyeksi perubahan iklim dan penurunan muka tanah (land subsidence) ke dalam perencanaan dan desain rehabilitasi infrastruktur pesisir di masa mendatang. Pendekatan berbasis data risiko yang dinamis dan koordinasi lintas sektor yang terlembagakan menjadi kunci dalam membangun ketahanan wilayah terhadap ancaman banjir rob yang bersifat berulang dan berpotensi meningkat intensitasnya.