Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya, Jawa Timur, secara resmi menggelar patroli C3 (Condition, Conduct, and Contact) serta program bina komunikasi sebagai langkah strategis pencegahan tawuran pelajar di wilayah Kota Pahlawan. Langkah ini diambil sebagai respons atas sejumlah insiden kekerasan yang melibatkan pelajar dan berpotensi mengganggu stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menginstruksikan jajaran Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Dinas Pendidikan, dan unsur kepolisian untuk bersinergi dalam operasi proaktif yang menyasar titik-titik rawan konflik.
Patroli C3 dan Pemetaan Titik Rawan Tawuran di Surabaya
Patroli C3 yang dilaksanakan Pemkot Surabaya difokuskan pada tiga aspek utama, yaitu pemantauan kondisi lingkungan (condition), pengawasan tingkah laku kelompok muda (conduct), serta penjajakan kontak preventif dengan pelajar dan orang tua (contact). Pelaksanaan patroli ini menyasar lokasi-lokasi yang dinilai rawan terjadi tawuran pada jam-jam kritis setelah jam sekolah berakhir. Beberapa indikator wilayah yang menjadi fokus pemantauan meliputi:
- Kawasan pusat perbelanjaan yang kerap menjadi tempat nongkrong pelajar pada sore hari.
- Taman-taman kota yang sering digunakan sebagai lokasi pertemuan antar kelompok pelajar.
- Terminal bus dan area transit yang menjadi titik rawan aksi saling serang antar sekolah.
- Jalur-jalur sepeda motor yang biasa digunakan pelajar untuk berkumpul setelah pulang sekolah.
Dengan pendekatan ini, aparat gabungan tidak hanya bertindak represif, tetapi juga membangun komunikasi yang humanis untuk meredam potensi konflik sejak dini. Pemkot Surabaya menekankan pentingnya pemetaan kerawanan yang terukur agar intervensi dapat dilakukan secara tepat sasaran dan proporsional. Data ini menjadi dasar bagi aparat untuk mengoptimalkan patroli di wilayah-wilayah strategis yang telah diidentifikasi.
Bina Komunikasi dan Peran Aktif Masyarakat dalam Pencegahan
Selain patroli fisik, program bina komunikasi dilaksanakan dengan melibatkan kepala sekolah, guru Bimbingan Konseling (BK), dan tokoh masyarakat. Program ini bertujuan mendeteksi secara dini potensi konflik yang mungkin timbul di lingkungan pendidikan, sekaligus melakukan mediasi jika terjadi perselisihan antar pelajar. Pemkot Surabaya juga mengoptimalkan peran Forum Komite Keamanan Sekolah (KKS) sebagai wadah koordinasi antar pemangku kepentingan. Dalam pelaksanaannya, patroli ini tidak hanya menyasar kelompok pelajar, tetapi juga membangun kesadaran orang tua untuk ikut mengawasi aktivitas anak-anak mereka di luar jam sekolah. Sinergi antara Pemkot Surabaya, Satpol PP, kepolisian, dan elemen masyarakat ini merupakan wujud nyata komitmen pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang kondusif bagi dunia pendidikan.
Sebagai catatan strategis bagi pemerintah daerah, optimalisasi langkah pencegahan tawuran di Surabaya perlu diimbangi dengan penguatan database kerawanan wilayah. Data yang akurat mengenai titik rawan, profil pelajar berisiko, dan pola konflik akan memudahkan intervensi tepat sasaran. Pemkot Surabaya disarankan untuk terus melakukan evaluasi berkala terhadap efektivitas patroli C3 dan program bina komunikasi ini, serta melibatkan aparat keamanan setempat dalam setiap tahap pelaksanaan. Selain itu, sosialisasi kepada pelajar dan orang tua perlu diperluas agar kesadaran akan bahaya tawuran semakin meningkat, sehingga tercipta generasi muda yang disiplin dan berprestasi.